Rabu, 18 Juni 2014

Dolly Seperti Mau Perang

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~Dolly-Seperti-Mau-Perang;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829621b38d1c30413cb30aa93f7cebafdb472




SURABAYA (Surabaya Pagi) – Seperti mau perang! Begitulah kondisi sekitar lokalisasi Dolly dan Jarak, tadi malam (18/6). Meski bentrok bisa diredam, ketegangan tak bisa dielakkan saat deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, sekitar pukul 19. 30 Wib. Deklarasi yang dihelat di gedung Islamic Center, Jl Raya Dukuh Kupang Surabaya, dijaga super ketat oleh polisi. Sementara pada saat yang sama, warga lokalisasi mulai pekerja seks komersial (PSK), mucikari dan lainnya menggelar deklarasi tandingan, menolak penutupan. Mereka bertahan di jalanan dengan membawa senjata pentungan dari kayu dan besi. Siaga yang dilakukan warga lokalisasi ini rencananya dilakukan hingga seminggu ke depan.

Sebelum deklarasi penutupan, ratusan anggota Samapta Polda Jatim sempat bentrok dengan belasan pekerja lokalisasi di Jalan Dukuh Kupang, Rabu (18/6) siang. Bentrok tidak terhindarkan setelah ratusan polisi merengsek mendekati akses masuk lokalisasi Dolly dan Jarak. Belasan pekerja lokalisasi yang berada di sekitar lokasi berusaha menghadang polisi yang bersenjata tongkat, tameng dan pakaian pelindung. Namun suasana memanas ini sempat diredam.

Usai maghrib, ketegangan kembali terjadi, menyusul kabar aksi sweeping yang akan dilakukan ormas pendukung penutupan Dolly. Warga lokalisipun terprovokasi. Sirine di ujung lokalisasi Gang Dolly meraung-raung dengan keras, sontak membuat warga yang sebelumnya terlihat bergerombol di sekitar lokalisasi berdiri dan berkumpul. Dengan membawa alat seadanya, berupa tongkat kayu dan pentungan, ratusan warga lokalisasi Gang Dolly dan Jarak bergerak maju guna menghadang kedatangan ormas tersebut. Seperti layaknya akan berperang, mereka memperkuat penjagaan di akses masuk terdekat lokalisasi tepatnya di perempatan Pasar Jarak.

Dengan berteriak-teriak sebagai tanda untuk mengobarkan semangat perlawanan, pemuda lokalisasi tampak memasang raut muka garang menanti kedatangan massa ormas tersebut. "Maju...! Jangan takut kita akan lawan mereka," teriak salah satu warga yang disambut angkatan balok kayu oleh massa.

Namun isu sweeping ini akhirnya tak terbukti. Sweeping yang dimaksud bukan dari Pemerintah atau Kepolisian, tapi kabar adanya sweeping dari Ormas tertentu. "Kabarnya mau ada sweeping, makanya kita berkumpul," jawab seorang pemuda bertubuh kekar sambil membawa pentungan dari kayu.

Sunarto, warga Putat Jaya menegaskan dirinya siap bertempur hingga titik darah penghabisan sampai Pemkot mengurung niatnya menutup Dolly dan Jarak. "Kami tetap akan terus melawan hingga darah penghabisan," ucap Sunarto. Polisi sempat mendatangi puluhan massa, kemudian berdialog dan meyakinkan kabar adanya sweeping itu tidak benar. Meski begitu, warga tetap berjaga di semua akses jalan menuju lokalisasi.

Hingga pukul 21.00 Wib, ketegangan masih terasa di sepanjang Gang Dolly dan Jarak. Namun hal itu tak menyurutkan warga dan pekerja lokalisasi melakukan tumpengan dan doa bersama, sebagai betuk perlawanan deklarasi penutupan Dolly dan Jarak. Pantauan di lokasi, acara ini didominasi wanita yang ditengarai PSK Dolly dan Jarak. Mereka membeber terpal dan karpet. "Ini sebagai bentuk syukur kita hingga detik ini tetap solid," ucap Anisa, koordinator tim advokasi Front Pekerja Lokalisasi (FPL).

Menurut Anisa, warga di lima RW tetap menolak penutupan lokalisasi Dolly. Mereka menilai, kebijakan itu akan menyengsarakan rakyat dan menambah angka pengangguran. "Jika lokalisasi tak masuk pajak, jangan salahkan lokalisasi. Salahkan muspikanya (musyawarah pimpinan kecamatan). Kita bayar per tahunnya. Untuk di Gang Dolly per tahunnya bayar Rp 1 juta dan di Jarak sebesar Rp 750.000. Itu uang tata tertib yang dikeluarkan pihak muspika," tekan Anisa.

Saat ini, kata Anisa, Pemerintah Kota Surabaya tidak perlu mengurusi kompleks pelacuran karena problem pengangguran masih harus diperangi. "Negara belum selesaikan itu. Jika rakyat sudah sejahtera, baru selesaikan lokalisasi," kata dia.

Pokemon dari FPL menyatakan deklarasi yang dihadiri warga ini, sebagai petanda bahwa lokalisasi Dolly dan Jarak tetap buka. "Dengan ini kami mendeklarasikan bahwa Dolly dan Jarak tetap buka," tandasnya. Deklarasi penolakan penutupan Dolly ini disaksikan kapolsek Sawahan Kompol Manang Subekti

Dalam deklarasi penolakan penutupan Dolly ini salah seorang PSK berteriak, menantang Walikota Surabaya Tri Rismaharini. "Kami tidak diberi makan Risma, kami cari makan sendiri. Kami terus lawan penutupan ini," teriak wanita paruh baya tersebut.

Dalam acara ini, Risma menjadi obrolan paling panas. Tidak hanya dalam orasi, tapi juga tulisan pada sejumlah poster yang mereka bawa. Ningsih, PSK Dolly, misalnya. Ia meminta agar Risma mempertimbangkan kembali penutupan Dolly. "Risma iku sak karepe dewe, penutupan ini jelas menyengsarakan kami," geramnya.

Ia mempertanyakan Risma, jika PSK Dolly dan Jarak menuruti Dolly ditutup. Apakah Risma menjamin nasibnya ke depan. "Kalau ditutup, kami tidak akan menjadi PSK, terus Risma bisa menjamin nasib kami tidak?" tutur dia. “Kalau Risma ingin menutup Dolly dengan cara baik-baik, kita bisa terima. Tapi Risma kami undang untuk membicarakan solusi penutupan Dolly di hadapan masyarakat saja tidak datang. Sekarang malah mengundang kami untuk deklarasi, apa maunya Risma,” lanjut wanita ini.

Dijaga Ketat

Deklarasi alih fungsi wisma dan wanita harapan lokalisasi Dolly-Jarak di gedung Islamic Center berlangsung tanpa halangan. Ribuan aparat pengamanan gabungan TNI,Polri,Satpol PP dan Bakesbang Linmas berjaga dis eputaran lokasi. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, aparat memperketat penjagaan. untuk masuk ke acara deklarasi wajib membawa undangan sementara wartawan wajib menunjukkan ID card.

Acara dimulai sekitar pukul 19.30 yang dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan pembacaan deklarasi oleh warga, PSK dan mucikari. Dilanjutkan penandatanganan MoU rehabilitasi wilayah eks lokalisasi oleh Walikota, Komandan Korem Bhaskara Jaya, Kapolrestabes, dan Komandan Garnisun.

Dalam sambutannya, Menteri Sosial Indonesia Salim Segaf Al Jufri mengatakan mengapresiasi langkah Pemkot menutup Dolly, karena hanya merusak moral bangsa. Salim mengaku, pihaknya serius menangani masalah prostitusi di Jatim termasuk Dolly sejak Juni 2012. Untuk itu, langkah berani Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim membuat bangga. Menurutnya, penutupan ini menjadi pengukir sejarah. Ini karena Dolly sudah 100 tahun berdiri.

“Ibarat orang yang berusia lanjut usia, sudah seharusnya dia meninggal dunia. Apalagi (prostitusi Dolly) membawa kerusakan akhlak, dekadensi moral, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), merugikan anak maka kita harus lakukan perubahan,” ujarnya saat deklarasi penutupan lokalisasi Dolly di Islamic Center.

Sementara Gubernur Jatim Soekarwo mengaku pasrah terhadap program kerja Walikota Surabaya. "Apapun program yang bu Risma ajukan saya dukung penuh. Ibaratnya, ngajukan kertas kosong saja pasti saya tanda tangani," ujar pejabat yang akrab dipanggil Pakde Karwo ini.

Walikota Tri Rismaharini mengaku hampir di semua lokalisasi yang ditutupnya selalu mendapat penolakan. Namun setelah mendapatkan bantuan dan pelatihan ketrampilan, kini kehidupan mereka justru lebih baik. Risma mencontohkan lokalisasi Dupak Bangunsari yang kini sudah banyak yang sukses menjadi pengusaha makanan.

Menyoal, aksi penyobekan undangan pengambilan dana kompensasi Risma mengaku jika mereka pastinya diintimidasi oleh oknum-oknum tertentu. "Mereka itu lho sebenarnya mau tapi karena diintimidasi ya takut. Wong mereka itu hanya diambil tenaga aja. Kalau sakit yo dibiarkan. Malah kita yang ngurus. Bahkan ada yang sekarat kita ambil, kita rawat," katanya.

Karenanya, Risma memberikan waktu lima hari bagi mereka unutk mengambil dana kompensasi penutupan lokalisasi Dolly-Jarak. Jika dalam waktu yang diberikan tidak juga diambil, pihaknya akan mengembalikan ke Kementrian Sosial.

Sementara itu paska deklarasi, Pemkot bekerjasama dengan polisi akan berjaga di lokalisasi sebagai bentuk bahwa pemkot tak lagi membiarkan adanya pelanggaran Perda di sana. Baik itu perdagangan manusia dan kegiatan prostitusi. n ov/alq/mal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar