Jumat, 20 Juni 2014

Sarapan di Bandara

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~Sarapan-di-Bandara;f2f2c23b88eaecf168caf29cfda3784b96e4e4b542ce1cc20754d0308078fd4c


Wong cilik satu ini gigih dan kreatif. Saya berani menilai seperti ini, karena baru kali ini orang berpakaian lusuh berjalan sambil berucap "sarapan-sarapan". semula saya tidak menyangka kalau pria pria kurus hitam berwajah melas ini menawarkan nasi bungkus Rp 7 ribuan. Memakai hem biru mudah lengan panjang dan celana biru dongker bersandal, dia mendatangi kerumunan calon penumpang pesawat dan pengantarnya. "Sarapan pak/bu. Murah Rp 7 ribu,"katanya kalem. Saya kira, pria itu hanya menawarkan sarapan, sementara nasinya ada di warung. Ternyata, nasinya dibungkus tas kresek hitam. Saya mengira tas kresek itu berisi ole-ole. Saya menyangka pria berkulit hitam itu calon penumpang atau pengantar. Saya baru sadar (ngeh) ketika dia membeber tas kreseknya ke sekerumunan pria-wanita yang berdiri di dekat pintu masuk terminal domestik. "Ada nasi rames, uduk dan pecel!" tawarnya. Ia kemudian meneruskan promosinya "Murah pak ketimbang di resto bandara, sekali makan bisa Rp 20 ribu," tambah pria yang kira-kira berusia 43 tahun. Pria yang berdiri bersama beberapa perempuan membeli dua bungkus. Si penjual mengeluarkan dua bungkusan nasi yang diikat karet gelang disertai sendok plastik. "Minumnya beli dimana pak? Minum yang murah?" tanya pembeli nasi bungkus. Spontan penjual "sarapan keliling bandara Juanda" itu menarik tas kreseknya mengeluarkan air mineral gelas. "Ini pak seribu saja. Murah," sebutnya. Usai dibayar, pria ini melipat tas kreseknya dan berjalan menghampiri kerumunan calon penumpang lainnya.

Menurut saya, wong cilik ini ngerti marketing. Tahu marketnya (khalayak sasarannya). Makanya ia tidak menghampiri semua calon penumpang atau kerumunan orang. Ia menyapa kerumunan orang-orang yang duduk dan lesehan di lantai. Sementara calon penumpang perlente dilewati.

Saya tertarik mengamati perilakunya ada dua hal, etos kerjanya dan kreativitasnya. Etos kerja, pria ini menawarkan barang dagangannya dengan tenaga fisik,mondar-mandir kesana kemari pada periode pagi, pukul 08.00an . Kreativitasnya, baru kali ini saya menjumpai penjual nasi seperti orang bepergian. Selama ini, penjual nasi keliling umumnya, nasi dijajar di baki dan ditawarkan seperti di stasiun kereta api dan terminal bus. Di bandara, baik di Bandara Juanda, Bandara Soekarno-Hatta Jakarta maupun Husein Sastranegara di Bandung dan Achmad Yani Semarang serta Adi Sucipto Jogjakarta, tidak tampak penjual nasi keliling. Apalagi yang nasinya dibuntal di dalam tas kresek. Kreativitas seperti ini layak diapresiasi sebagai entreprenuership dari orang miskin di Surabaya. Mereka tanpa belajar dari pakar marketing. Mereka berangkat tanpa dicekoki modal dari bank. Dan mereka berbisnis tanpa dipengaruhi pebisnis-pebisnis kelas atas. Mereka berbisnis, karena butuh hidup, ingin menyambung nyawa dan ingin tidak makin miskin. Maka itu, Jumat pagi kemarin (28/12), pria itu menjajahkan "sarapannya" dengan bersandal, berjalan dan tanpa alat pemasaran, kecuali tas kresek warna hitam. Patut ditiru oleh warga kota yang masih miskin dan tidak ingin miskin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar