Kamis, 19 Juni 2014

Tidur, Nyaman di Kos-kosan Ketimbang Hotel

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~Tidur,-Nyaman-di-Kos-kosan-Ketimbang-Hotel;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829628012afe4d51f0c72465e0fc241c56849


Komunitas lesbian di kota Surabaya tak hanya private party di tempat karaoke. Mereka juga menyewa kos-kosan bebas, agar bisa tidur bersama pasangan lesbinya. Bukan check in di hotel seperti pasangan pada umumnya. Meski tarif kos cukup mahal, pasangan lesbi ini bersedia patungan. Bagi penyuka sesama jenis wanita ini, hidup bersama di kos-kosan memberi sensasi tersendiri? Seperti apa? Berikut ini penelusuran wartawan Surabaya Pagi.

Narendra Bakrie, SURABAYA

Dari penulusuran Surabaya Pagi, salah satu tempat kos yang disewa komunitas lesbi ini diantaranya di daerah Jalan Arjuno, Petemon, Kedungdoro dan Dukuh Kupang. Di daerah ini memang banyak kos-kosan bebas. Bisa menerima tamu 24 jam tanpa batasan daftar tamu. Rata-rata tarif kos berkisar Rp 1,2 juta- 1,5 juta per bulan. Dengan fasilitas bad, AC dan kamar mandi dalam, kos-kosan yang mereka sewa digunakan untuk menampung anggotanya. Kamar inipun biasanya digunakan untuk 3 hingga 6 anggotanya. Bahkan anggota yang mereka tampung tak hanya dari Surabaya. Tapi datang dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Jember dan Banyuwangi.

“Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui sosial media maupun telepon selular. Meski begitu, kami cukup dekat karena hampir setiap saat ketika kami butuh diskusi, komunikasi itu pun kami lakukan. Dan memang, ketika kami butuh ketemuan sesama anggota, kami akan menentukan tempat tinggal sementara. Ketemuan kami memang tergolong singkat. Rata- rata hanya 1 minggu saja. Namun bagi kami hal itu uda sangat berkesan bagi kami. Karena ketika kami ingin istirahat, kami ditampung di kos-kosan teman (sekaligus pasangan) seanggota,” papar Rezki (bukan nama sebenarnya) yang mengaku datang dari Jember dan berperan sebagai Buci (seperti laki-laki), di kos pasangan Fem-nya di daerah Petemon, Minggu (9/2/2014) lalu.

Hal senada diungkapkan Dita (juga nama samaran). Dita yang mengaku masuk dalam Komunitas L ini sejak 2012 silam ini mengaku jika dirinya sering memilih kos-kosan bebas. Namun, Dita juga tak menampik jika dirinya sering berpindah kos-kosan. Hal itu dirinya lakukan jika komunitas Lesbi mereka menjadi bergunjingan tetangga kos serta warga sekitar. “Saya kos di sini bayarnya patungan dengan dua orang. Jadi akan terasa ringan. Hal ini saya lakukan untuk menampung teman-teman saya yang ingin menginap di sini untuk temu kangen dengan kita yang ada di Surabaya. Namun ketika kami sudah merasa tak nyaman dengan lingkungan kos, kami pasti akan pindah kos,” ungkap cewek 22 tahun berparas cantik yang berperan sebagai Fem (perempuan).

Lebih lanjut Dita bercerita ketemuan diantara mereka tak hanya sharing atau berbagai cerita dan curhat-curahatan. Namun, lebih dari itu. Mereka bertemu dalam satu kota (kebetulan di Surabaya), untuk melepas kangen. Selain hanya sekedar jalan jalan ke beberapa mall di kota Buaya ini di siang hari, usai Isya’, mereka menghabiskan waktu ke taman-taman kota seperti di Taman Bungkul. Ketika mereka sudah bosan di luar, mereka akan kembali ke kos-kosan yang memang sudah disediakan. Meski ditempati 6 orang, namun harmonisasi diantara mereka diceritakan oleh Dita sangatlah terasa. Pasalnya, saat di dalam kamar, mereka melampiaskan rasa kangen diantara pasangan masing-masing seperti layaknya pasangan pacaran normal pada umumnya.

Ketika ditanya soal kecurigaan yang penjaga kos, Dita hanya tertawa sambil mengibaskan rambut panjangnya. “Lha pastinya tak masalah lha mas. Ini kan kos kosan bebas. Penjaga kos hanya kadangkala bertanya kepada teman-teman saya yang berambut cepak seperti layaknya laki laki (penampilan Buci). Namun, ketika melihat dada mereka yang sedikit berisi, ya penjaga kos pasti akan mengerti dengan sendirinya. Namun jika penjaganya masih ngotot, ya dengan terpaksa mereka tunjukkan KTP. Selesai kan. Wong kita semua memang berjenis kelamin perempuan,” kisahnya tanpa tedeng aling-aling.

Tak hanya itu, dari penelusuran Surabaya Pagi serta informasi yang berhasil terhimpun, komunitas ini memang mengeluarkan ekstra uang untuk melampiaskan asmara sesama pasangannya. Bahkan tak jarang dari mereka membeli alat-alat pemuas syahwat (sex toys) yang mereka beli dengan cara online maupun langsung di beberapa toko di Surabaya. Sementara untuk mencukupi kebutuhan ekstra mereka, bagi yang masih pelajar maupun mahasiswa, biasanya meminta uang kepada orang tua dengan alasan tertentu. Pasalnya, rata rata orang tua mereka tak mengetahui komunitas yang mereka ikuti. Sedangkan bagi yang sudah bekerja, pastinya tak akan bingung dan seringkali membantu jika pasangan asmaranya membutuhkan uang. “Kalau ada masalah, kita saling bantu mas,” cetus dia. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar