TERKAIT:
Sdr. Jokowi-Prabowo,
Anda telah melalui dua debat terbuka yang disiarkan secara nasional oleh beberapa TV. Penampilan, cara berkomunikasi dan konsep-konsep Anda berdua telah didengar dan dilihat oleh rakyat yang beragam. Sebagai calon presiden yang dituntut untuk mendengar suara rakyat, saya ingin memberi masukan dari suara rakyat yang ditampung harian kita ‘’Surabaya Pagi’’ dan dimuat dalam edisi Senin kemarin (16/6/2014). Saya tidak menduga wong cilik mengaku akan Golput. Fenomena apa yang terjadi dalam Pilpres 2014 kali ini.
Suara rakyat itu antara lain Faisol, penjaga warung kopi di daerah Waru, Sidoarjo. Usai menonton acara debat capres Senin ini, ia mengaku kecewa. ‘’Salah satu capres mengumbar janji. Belum tentu apa yang dikatakan itu terlaksana. Capres itu berjanji hanya berharap Indonesia lebih baik,” ucapnya dengan nada kesal.
Sedangkan Joko, seorang tukang becak, yang mangkal di Terminal Bungurasih menilai capres yang bertarung jangan hanya janji-janji. “Rakyat jangan cuma diberi mimpi. Disuruh memilih tapi janjinya tak ditepati,” kritik Joko, 36 tahun.
Sementara itu , Hendrawan (17), arek asal Dukuh Kupang menilai debat capres tak menarik perhatiannya. “Saya makin nggak suka politik, males. Gitu-gitu aja. Enak pejabatnya daripada rakyatnya. Lebih baik Golput,” cetusnya saat berada di Indomaret Jl Diponegoro.
Pengakuan Faisol, Joko dan Hendrawan, tak beda dengan Samsul (42), tukang sapu di taman depan Grahadi. “Untuk apa nonton debat capres, nasib saya nggak akan berubah. Ada presiden baru, saya tetap jadi tukang sapu. Saya akan golput saja,” cetusnya.
Empat wong cilik itu bisa Anda anggap tidak mewakili kelas bawah lainnya. Itu hak Anda untuk tidak mengakui suara keempat wong cilik yang berada di kota Surabaya. Tapi sebagai politikus yang mengerti hakikat suara rakyat, cetusan spontan empat pria usai menonton debat capres melalui TV perlu Anda telaah, mengapa mereka kecewa. Tentu memiliki alasan. Justru yang menarik adalah alasan tentang pesimisme mereka dengan janji-janji Anda yang dikesankan mengumbar janji. Akhirnya rencana pilihan mereka adalah golongan putih (Golput).
Sdr. Jokowi-Prabowo,
Anda berdua saya anggap sama-sama sudah paham bahwa inti dari demokrasi adalah prinsip kedaulatan rakyat. Terkait dengan kedaulatan rakyat, terdapat slogan yang menyatakan bahwa Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Slogan ini berangkat dari sebuah asumsi, bahwa kesepakatan mayoritas (wakil) rakyat dalam sistem demokrasi itu pasti mencerminkan kebaikan dan bakal menghasilkan penyelesaian yang memuaskan bagi seluruh rakyat. Logika ini menggunakan pendapat bila kebanyakan orang setuju, pastilah persetujuan itu akan berkait dengan hal-hal yang dipandang baik oleh kebanyakan orang.
Logika ini didasarkan bahwa Tuhan merupakan sumber kebaikan, maka persetujuan kebanyakan orang atas sesuatu yang dipandang baik itu juga tentu selaras dengan kehendak Tuhan. Dari situlah disimpulkan, Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Artinya
Rakyat sebagai pemilik kedaulatan pun kemudian naik daun. Aspirasi dan keinginan rakyat menjadi amat bertuah, sehingga jadi obyek buruan Anda berdua yang berambisi menguasai negara. Maka itu munculnya dalih “vox populi vox dei,” suara rakyat disakralkan karena ia dipahami seakan-akan identik dengan firman Allah. Sadarkah Anda berdua dengan logika ini. Jika sadar, masihkah Anda dalam berebut kursi R-1, mengakali rakyat, membuat fitnah, mengiming-imingi rakyat dengan uang (money politics) dan mengintimidasi rakyat? Siapa diantara Anda berdua melakukan praktik-praktik curang dan tercela seperti itu? Saya memastikan, tidak satu pun diantara Anda berdua jujur mengakui kecurangan Anda. Meski Anda tidak mengaku, rakyat akan mencatat. Hal ini bisa Anda simak dari pengakuan polos empat wong cilik asal Surabaya yang dimuat harian kita Surabaya Pagi,Senin kemarin (16/6). Dalam pileg kemarin, KPU mencatat ada 24,89 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Sementara dalam Pemilu tahun 2009 tercatat 29,1 persen suara pemili golput.
Anda juga sudah mengetahui penyebab golput, selain persoalan administratif, juga teknis yaitu tak ada waktu datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Disamping alasan politis yaitu ada ketidak percayaan pada Anda sebagai capres dan juga KPU sebagai institusi pemilu.
Sdr. Prabowo-Jokowi,
Saya menyegarkan ingatan Anda berdua bahwa dalam Pemilu Legislatif, 9 April yang lalu, 'Partai Golongan Putih' keluar sebagai pemenang, baru PDIP, Golkar. Gerindra dan Partai Demokrat. Kemenangan Partai Golongan Putih itu,bukan tidak mungkin akan menjadi pemenang lagi dalam Pemilu Legislatif. Katakan suara Golput tetap 24,89%, berarti satu diantara Anda berdua tidak akan bisa memperoleh suara diatas 50%. Itu berarti akan ada putaran kedua.
Maka itu, dalam sisa kampanye dua minggu ini, kesempatan bagi Anda untuk sama-sama memperbaiki cara kampanye Anda. Salah satunya hentikan kampanye negatif dan fitnahan. Berlomba-lombalah mensosialisasikan program kerja presiden 5 tahun ke depan dengan realistis. Artinya capres yang masih menghujat, memfitnah dan membuat program bombastis, bersiap-siapkan untuk ditinggalkan oleh pemilih terdidik. Mengingat, program yang bombastis secara ilmu manajemen dianggap program yang tidak realistis.
Sebaliknya, capres yang terus-menerus dihujat, dijelek-jelekkan, difitnah dan dicari-cari kekurangan dan kesalahannya, bisa mengundang empati dari publik yang semula apatis dan skeptis. Mengapa? Capres yang demikian dianggap orang yang didholimin, dianiaya dan dikeroyok. Bisa jadi pemilih golput yang berjumlah 24,89% akan memilihnya, karena bersimpati. Bukan tidak mungkin, suara capres yang didholimin dan sering difitnah dapat memperoleh suara diatas 60%. Ingat kasus SBY, pada pemilu presiden secara langsung tahun 2004 yang dicemooh macam-macam oleh suami presiden Megawati, Taufik Kiemas, yang kini sudah almarhum.
Dalam prediksi saya, bila dua minggu ini penjelek-jelekan capres tidak pernah dihentikan, bisa jadi kelompok terdidik yang berpandangan sinis bisa memilih capres yang teraniaya. Apalagi kasus tabloid 'Obor Rakyat' tidak segera diungkap dalang dan jaringannya, kaum terdidik termasuk aktivis bisa membuat sikap dari golput memihak capres yang teraniaya tanpa mendapat perlakuan adil dari aparat penegak hukum. Konsep pemihakan ini bagian dari sikap civil society (masyarakat madani) terhadap warga sipil yang didholimin.
Sdr Prabowo-Jokowi,
Saya ingin berdiskusi dengan Anda melalui Harian Surabaya Pagi. Dalam pandangan saya, orang terdidik adalah orang yang mengenal, mengenyam dan menghormati masalah pendidikan. Mengapa? Karena, pendidikan adalah hak semua, digunakan untuk kepentingan semua. Dalam hal ini, pendidikan menekankan pada partisispasi dan kontribusi semua orang. Artinya, orang terdidik biasanya memiliki kesadaran dan pemahaman konseptual tentang kebenaran dan keyakinan. Mengingat, orang terdidik selalu terpanggil untuk membebaskan dan memanusiakan manusia. Termasuk memperhatikan rasa kemanusiaan terhadap capres yang sudah dikeroyok, masih dijelek-jelekan, dicari-cari kesalahan dan kekurangannya, serta difitnah dengan berbagai media. Pembelaan orang terdidik ini bagian dari "suara rakyat,suara Tuhan". Artinya,
“Vox Populi Vox Dei" adalah suatu pernyataan yang mengindikasikan rakyat mulai berani menggugat hegemoni penguasa absolut. Pernyataan ini pernah populer di masa pencerahan (renaesance). Bisa jadi akan ada perlawanan dari rakyat terhadap kelompok yang sering memfitnah atau sewenang-wenang. Mereka yang suka memfitnah tak beda dengan "penguasa yang otoriter". Dalam pandangan saya orang yang berani membela terhadap mereka yang selalu dianiaya, menyamakan dirinya dengan Tuhan. Suara rakyat yang membela orang yang didholimin bisa merasa mendapat hak istimewa dari Tuhan untuk menghadapu segenap aspek kehidupan manusia yang merendahkan sesama manusia.(tatangistiawan@gmail.com)
Anda telah melalui dua debat terbuka yang disiarkan secara nasional oleh beberapa TV. Penampilan, cara berkomunikasi dan konsep-konsep Anda berdua telah didengar dan dilihat oleh rakyat yang beragam. Sebagai calon presiden yang dituntut untuk mendengar suara rakyat, saya ingin memberi masukan dari suara rakyat yang ditampung harian kita ‘’Surabaya Pagi’’ dan dimuat dalam edisi Senin kemarin (16/6/2014). Saya tidak menduga wong cilik mengaku akan Golput. Fenomena apa yang terjadi dalam Pilpres 2014 kali ini.
Suara rakyat itu antara lain Faisol, penjaga warung kopi di daerah Waru, Sidoarjo. Usai menonton acara debat capres Senin ini, ia mengaku kecewa. ‘’Salah satu capres mengumbar janji. Belum tentu apa yang dikatakan itu terlaksana. Capres itu berjanji hanya berharap Indonesia lebih baik,” ucapnya dengan nada kesal.
Sedangkan Joko, seorang tukang becak, yang mangkal di Terminal Bungurasih menilai capres yang bertarung jangan hanya janji-janji. “Rakyat jangan cuma diberi mimpi. Disuruh memilih tapi janjinya tak ditepati,” kritik Joko, 36 tahun.
Sementara itu , Hendrawan (17), arek asal Dukuh Kupang menilai debat capres tak menarik perhatiannya. “Saya makin nggak suka politik, males. Gitu-gitu aja. Enak pejabatnya daripada rakyatnya. Lebih baik Golput,” cetusnya saat berada di Indomaret Jl Diponegoro.
Pengakuan Faisol, Joko dan Hendrawan, tak beda dengan Samsul (42), tukang sapu di taman depan Grahadi. “Untuk apa nonton debat capres, nasib saya nggak akan berubah. Ada presiden baru, saya tetap jadi tukang sapu. Saya akan golput saja,” cetusnya.
Empat wong cilik itu bisa Anda anggap tidak mewakili kelas bawah lainnya. Itu hak Anda untuk tidak mengakui suara keempat wong cilik yang berada di kota Surabaya. Tapi sebagai politikus yang mengerti hakikat suara rakyat, cetusan spontan empat pria usai menonton debat capres melalui TV perlu Anda telaah, mengapa mereka kecewa. Tentu memiliki alasan. Justru yang menarik adalah alasan tentang pesimisme mereka dengan janji-janji Anda yang dikesankan mengumbar janji. Akhirnya rencana pilihan mereka adalah golongan putih (Golput).
Sdr. Jokowi-Prabowo,
Anda berdua saya anggap sama-sama sudah paham bahwa inti dari demokrasi adalah prinsip kedaulatan rakyat. Terkait dengan kedaulatan rakyat, terdapat slogan yang menyatakan bahwa Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Slogan ini berangkat dari sebuah asumsi, bahwa kesepakatan mayoritas (wakil) rakyat dalam sistem demokrasi itu pasti mencerminkan kebaikan dan bakal menghasilkan penyelesaian yang memuaskan bagi seluruh rakyat. Logika ini menggunakan pendapat bila kebanyakan orang setuju, pastilah persetujuan itu akan berkait dengan hal-hal yang dipandang baik oleh kebanyakan orang.
Logika ini didasarkan bahwa Tuhan merupakan sumber kebaikan, maka persetujuan kebanyakan orang atas sesuatu yang dipandang baik itu juga tentu selaras dengan kehendak Tuhan. Dari situlah disimpulkan, Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Artinya
Rakyat sebagai pemilik kedaulatan pun kemudian naik daun. Aspirasi dan keinginan rakyat menjadi amat bertuah, sehingga jadi obyek buruan Anda berdua yang berambisi menguasai negara. Maka itu munculnya dalih “vox populi vox dei,” suara rakyat disakralkan karena ia dipahami seakan-akan identik dengan firman Allah. Sadarkah Anda berdua dengan logika ini. Jika sadar, masihkah Anda dalam berebut kursi R-1, mengakali rakyat, membuat fitnah, mengiming-imingi rakyat dengan uang (money politics) dan mengintimidasi rakyat? Siapa diantara Anda berdua melakukan praktik-praktik curang dan tercela seperti itu? Saya memastikan, tidak satu pun diantara Anda berdua jujur mengakui kecurangan Anda. Meski Anda tidak mengaku, rakyat akan mencatat. Hal ini bisa Anda simak dari pengakuan polos empat wong cilik asal Surabaya yang dimuat harian kita Surabaya Pagi,Senin kemarin (16/6). Dalam pileg kemarin, KPU mencatat ada 24,89 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Sementara dalam Pemilu tahun 2009 tercatat 29,1 persen suara pemili golput.
Anda juga sudah mengetahui penyebab golput, selain persoalan administratif, juga teknis yaitu tak ada waktu datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Disamping alasan politis yaitu ada ketidak percayaan pada Anda sebagai capres dan juga KPU sebagai institusi pemilu.
Sdr. Prabowo-Jokowi,
Saya menyegarkan ingatan Anda berdua bahwa dalam Pemilu Legislatif, 9 April yang lalu, 'Partai Golongan Putih' keluar sebagai pemenang, baru PDIP, Golkar. Gerindra dan Partai Demokrat. Kemenangan Partai Golongan Putih itu,bukan tidak mungkin akan menjadi pemenang lagi dalam Pemilu Legislatif. Katakan suara Golput tetap 24,89%, berarti satu diantara Anda berdua tidak akan bisa memperoleh suara diatas 50%. Itu berarti akan ada putaran kedua.
Maka itu, dalam sisa kampanye dua minggu ini, kesempatan bagi Anda untuk sama-sama memperbaiki cara kampanye Anda. Salah satunya hentikan kampanye negatif dan fitnahan. Berlomba-lombalah mensosialisasikan program kerja presiden 5 tahun ke depan dengan realistis. Artinya capres yang masih menghujat, memfitnah dan membuat program bombastis, bersiap-siapkan untuk ditinggalkan oleh pemilih terdidik. Mengingat, program yang bombastis secara ilmu manajemen dianggap program yang tidak realistis.
Sebaliknya, capres yang terus-menerus dihujat, dijelek-jelekkan, difitnah dan dicari-cari kekurangan dan kesalahannya, bisa mengundang empati dari publik yang semula apatis dan skeptis. Mengapa? Capres yang demikian dianggap orang yang didholimin, dianiaya dan dikeroyok. Bisa jadi pemilih golput yang berjumlah 24,89% akan memilihnya, karena bersimpati. Bukan tidak mungkin, suara capres yang didholimin dan sering difitnah dapat memperoleh suara diatas 60%. Ingat kasus SBY, pada pemilu presiden secara langsung tahun 2004 yang dicemooh macam-macam oleh suami presiden Megawati, Taufik Kiemas, yang kini sudah almarhum.
Dalam prediksi saya, bila dua minggu ini penjelek-jelekan capres tidak pernah dihentikan, bisa jadi kelompok terdidik yang berpandangan sinis bisa memilih capres yang teraniaya. Apalagi kasus tabloid 'Obor Rakyat' tidak segera diungkap dalang dan jaringannya, kaum terdidik termasuk aktivis bisa membuat sikap dari golput memihak capres yang teraniaya tanpa mendapat perlakuan adil dari aparat penegak hukum. Konsep pemihakan ini bagian dari sikap civil society (masyarakat madani) terhadap warga sipil yang didholimin.
Sdr Prabowo-Jokowi,
Saya ingin berdiskusi dengan Anda melalui Harian Surabaya Pagi. Dalam pandangan saya, orang terdidik adalah orang yang mengenal, mengenyam dan menghormati masalah pendidikan. Mengapa? Karena, pendidikan adalah hak semua, digunakan untuk kepentingan semua. Dalam hal ini, pendidikan menekankan pada partisispasi dan kontribusi semua orang. Artinya, orang terdidik biasanya memiliki kesadaran dan pemahaman konseptual tentang kebenaran dan keyakinan. Mengingat, orang terdidik selalu terpanggil untuk membebaskan dan memanusiakan manusia. Termasuk memperhatikan rasa kemanusiaan terhadap capres yang sudah dikeroyok, masih dijelek-jelekan, dicari-cari kesalahan dan kekurangannya, serta difitnah dengan berbagai media. Pembelaan orang terdidik ini bagian dari "suara rakyat,suara Tuhan". Artinya,
“Vox Populi Vox Dei" adalah suatu pernyataan yang mengindikasikan rakyat mulai berani menggugat hegemoni penguasa absolut. Pernyataan ini pernah populer di masa pencerahan (renaesance). Bisa jadi akan ada perlawanan dari rakyat terhadap kelompok yang sering memfitnah atau sewenang-wenang. Mereka yang suka memfitnah tak beda dengan "penguasa yang otoriter". Dalam pandangan saya orang yang berani membela terhadap mereka yang selalu dianiaya, menyamakan dirinya dengan Tuhan. Suara rakyat yang membela orang yang didholimin bisa merasa mendapat hak istimewa dari Tuhan untuk menghadapu segenap aspek kehidupan manusia yang merendahkan sesama manusia.(tatangistiawan@gmail.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar