Jumat, 20 Juni 2014

Generasi Bahenol!!

https://setokdel.wordpress.com/2013/01/24/generasi-bahenol/#more-1080



Generasi Bahenol!!


Setelah kemarin kata bujangan, kali kini giliran kata “Bahenol” yang sedikit coba saya kupas. Tentunya saya disini bukan sebagai ahli dalam tata bahasa, saya hanya awam yang sekedar ingin menulisnya saja. Jadi nanti memang ada beberapa referensi yang saya comot dari internet dan tambahan dari sudut pandang saya pribadi, barangkali kalo ada yang tidak lurus, jadi mohon diluruskan.
Bahenol…
Jadi tahukah anda darimana kata bahenol itu berasal ? Apakah itu kata serapan dari bahasa inggris, perancis, cina, jawa, bali, sumatera, kalimantan, sulawesi, maluku, papua atau lombok, saya benar-benar tidak tahu. Tapi kalo hasil riset di internet kata bahenol itu bisa disimpulkan menjadi mesum atau cabul. Kalo tidak percaya coba saja sendiri, gunakan google—saya jamin anda akan tampak mesum dan cabul jika nekat mencobanya. Sementara seperti biasa rujukan yang saya pakai adalah kitab sakti KBBI. Jadi arti kata “bahenol” itu sendiri kalo menurut KBBI adalah montok dan menggairahkan, yah itu. :mrgreen:
Sebenarnya dua paragraf barusan untuk sekedar pembuka di awal tulisan, maaf kalo kepanjangan.
Yang ini lanjutannya..
Nah jadinya menarik, karena ihwal bahenol ini sebenarnya tidak perlu diperbincangkan, karena kalo menurut orang tua itu tidak sopan, vulgar, dan seronok. Tapi yang namanya soal syahwat terus terang saja memang selalu asik untuk diperbincangkan, apalagi sambil “dibayangkan”, termasuk bahenol itu tadi. :lol:
Tentu, latar belakang atas ke-bahenol-an ini bermula ketika saya sedang menonton tv. Pada dasarnya niatan saya menonton tv itu sekedar ingin menonton berita saja, khususnya liputan bola—yang pasti saya suka nonton mbak-mbak presenternya. Jadi …, jadi ya begitu dari yang saya cermati isi tv sekarang kadang banyak yang begituan, banyak yang bahenol—untuk selanjutnya kita sebut saja “generasi bahenol”. Saya tidak menunjuk mbak-mbak presenter bola itu generasi bahenol, bukan, bukan itu—presenter bola itu sudah kodratnya harus bahenol, kalo tidak nonton bolanya tidak akan berkeringat bersemangat—, maksud saya ya generasi adik-adik kita, juga kakak-kakaknya yang agak senior.
ini gambarnya, bahenol kan..?

BAHENOL’48

Makanya sayasebagai laki-laki normal yang tidak menyalahi kodrat, tanpa kemunafikan terkadang otomatis akan (maaf) terangsang atau paling tidak bersemangat lah jika menonton generasi bahenol ini beraksi di layar kaca. Bagaimana orang tidak terangsang kalo melihat banyak akhwat—masih anak-anak—bernyanyi menari lengkap dengan pahanya. Pun demikian, walau terus terang saya merasa terhibur, kadang saya juga merasa sok menyesal. Bukankah adik-adik ini masih terlalu polos untuk tampil seksi ala orang dewasa. :(
Dari dulu memang ada bebrapa pihak yang takut keseksian adik-adik ini dimanfaatkan semena-mena oleh beberapa orang, khususnya para pedofil, atau saya malah curiga ada konspirasi Wahyudidisini, jangan-jangan fans club mereka itu—yang mayoritas para ikhwan—sebenarnya hanyalah kedok sebagai wadah paguyuban untuk menampung para kaum pedofil di Indonesia. Lha ya kok aneh jaler-jaker iki hobine kok ya doyan nonton kimcil-kimcil sing sik rung cukup umur.
Barangkali kalo saya boleh asal, banyak kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur yang kemarin sedang marak itu, ada korelasi juga dengan para generasi bahenol. Seperti yang saya bilang tadi, seseorang yang menonton genarasi bahenol ini akan terangsang tiba-tiba atau bisa saja sambil membayangkan yang tidak-tidak. Mungkin sesekali saja menontonnya masih bisa ditolerir, sebatas rekreasi—untuk kesenangan manusia—, tapi bagaimana kalo terus-terusan, apalagi generasi bahenol ini turut disiarkan oleh pertelevisian nasional, lha yang menonton bisa seluruh Indonesia.
Tentu pkiran mereka yang sering menontonnya bisa jadi bias kalo melihat akhwat yang seumuran dengan generasi bahenol ini berseliweran diantara mereka, fantasinya bisa macam-macam. Nah, Anda tahu sendiri lah selanjutnya seperti apa..
Saya sebenarnya ingin komplain, masalahnya target pembatasan dan penyensoran gambar di televisi kita tampaknya kurang begitu tegas. Masak yang disensor cuma belahan dadanya doang, lha pahanya yang mulus-mulus itu malah lulus—padahal kita sama-sama tahu ibarat ayam, dada dan paha itu sama-sama enak. Nah, ini diskriminasi namanya..!!
Bukannya saya mau menyalahkan media-media yang kurang tegas atau pilih kasih dalam penyensoran bagian-bagian tertentu, jujur saja saya memang hipokrit, bukan otak saya yang ngeres atau cabul, tapi ini normal, disisi lain kadang saya bisa menikmatinya, tapi ini sebatas kadang, bukan sering.
Namun hal lain yang saya sangsikan adalah, bukankah ini melanggar undang-undang pornografi anak. Secara tidak langsung kan secara kasar dimasimg-masing kepala orang yang menontonnya akan ada sesuatu yang dianggap merangsang, meskipun hanya sebuah paha. Belum lagi ini juga terkait ekploitasi terhadap anak dengan tujuan “komersil”. Meskipun tidak ada tindak kekerasan, tetapi saya pernah melihat di tv-tv sebelumnya kalo mereka begitu keras dalam latihan, ada semacam keterpaksaan. Memang awalnya mereka itu disaring dari proses seleksi yang ketat melihat ini seperti sebuah ajang mewujudkan impian untuk menjadi idola, tapi semakin kesini, disinilah anak-anak ini mulai dipekerjakan. Ya Wallahualam
Dan akhir kata pandangan saya tentang para generasi yang bahenol ini menjadi tidak karuan, merasa terdisonansi. Disisi lain saya merasa iba dan disisi lainya lagi saya merasa.. ah ..

ya begitulah, saya masih merasa normal dengan keperjakaan saya, ya udah saya pasrah, ya mau gimana lagi..
:mrgreen:


P.S:Sebenarnya posting ini terbilang telat, entah kenapa barangkali ini sekedar pengingat kalo-kalo nanti ada lagi kemunculan adik-adik untuk generasi yang ke-3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar