TERKAIT:
Kaum lesbian yang sudah dewasa dan masih belia (ABG), punya cara berbeda dalam mengekspresikan cintanya dengan pasangan masing-masing. Lesbian dewasa yang umumnya sudah bekerja dan memiliki penghasilan ini, begitu setia membina hubungan. Bahkan, bisa dikatakan seperti suami istri pada pasangan normal. Sedang pasangan lesbi ABG cenderung coba-coba. Yang penting fun. Begitu juga dalam menuntaskan hasrat biologisnya, lesbian dewasa dan remaja ini punya cara-cara tersendiri. Seperti apa? Berikut ini penelusuran wartawan Surabaya Pagi.
Narendra Bakrie, SURABAYA
Banyak masyarakat umum yang mengangangap pasangan lesbian selalu menggunakan sex toys dalam melakukan hubungan badan. Namun, beberapa pasangan dari komunitas L ini dengan tegas menampiknya. Pasalnya, pasangan ini lebih menyukai sentuhan-sentuhan alami pasangannya. Sentuhan alami inilah yang membuat mereka mencapai kepuasan. Namun, ada juga yang lebih menyukai alat bantu seks yang dijual di sejumlah toko.
Bagi pasangan lesbian yang sudah bertahun-tahun membina hubungan, rasa saling mengerti dan bertanggungjawab menjadi hal utama yang ingin mereka ciptakan. Karena jika salah satu pasangan berkhianat, sangatlah sulit untuk mencari pengganti. Ketika keduanya ingin melampiaskan hasrat bilogisnya, pasangan lesbi akan diskusi lebih dahulu. Apakah akan menggunakan alat bantu seks (sex toys) ataukah dilakukan secara alami. “Kesepakatan itu sangat penting bagi kami. Ini untuk menghindari perpisahan diantara kami,” cerita Naomi (nama samaran), seorang lesbisan cewek (Fem), ditemui di sebuah kos-kosan daerah Kedungdoro, Rabu (12/2) malam.
Ia mengaku sudah membina hubungan dengan Buci (sebutan lesbian yang berperan cowok) selama 7 tahun. Fem yang bekerja perusahaan swasta di Surabaya ini mengatakan, selama membina hubungan dengan Buci-nya, dirinya menjalankan sama persis dengan keluarga pada umumya. “Ya ketika kita butuh berhubungan intim, ya langsung saja mas. Perasaan cinta dan setialah yang membuat kita berdua lebih cepat mencapai klimaks. Tak perlu sex toys. Secara basic jiwa kita kan sudah tak ngeh (suka) lagi dengan sex toys yang berbentuk alat kelamin laki-laki. Jadinya lucu dong, jika kita memaksakan hal itu. Bisa bisa kita berdua nggak bisa enjoy,” papar wanita asli Surabaya ini sambil tertawa lebar.
Sementara itu, pasangan lesbian yang masih duduk di bangku sekolah justru mengungkapkan fakta lain. Alih alih mengikuti tren, pasangan lesbian muda ini rata-rata mengaku lebih suka menggunakan sex toys untuk melampiaskan hasrat biologisnya. Meski harga sex toys lumayan mahal untuk mereka, namun tak ada masalah. Pasalnya, mereka mengaku membeli sex toys ini dengan cara patungan. Mereka mengaku, alat tersebut akan mereka gunakan secara bergantian sesama anggota kelompok.
“Kita kan pemula mas. Komunitas L kita hanya ingin mengikuti tren yang ada sekarang. Mungkin kita belum bisa mencapai hubungan spesial (layaknya berkeluarga) yang sudah dapat dicapai oleh senior-senior kami. Ketika kita dapat refrensi cara berhubungan pasangan yang sama dengan kita, ya itu yang akan kita lakukan. Maklum, kita masih muda dan bergairah. Eksperimen atas hubungan kita selalu kita lakukan. Itupun atas kesepakatan dari kita juga. Yang penting asyik dan membuat kita fun,” papar Mira, remaja 19 tahun ini dengan malu malu.
Dari pengakuan beberapa toko sex toys di Surabaya, produk-produk alat bantu seks yang mereka jual rata rata-terbeli oleh kelompok kelompok minoritas, seperti gay dan lesbian. Namun mereka tak memungkiri banyak pula pasangan normal yang membelinya. Meski para penjual tak mengetahui pasti jenis pasangan pembeli, tapi dari alat yang dibeli dapat ditebak mereka ini pasangan gay, lesbian atau normal. Bahkan para penjual ini tak membantah jika sudah memiliki pelanggan dari kelompok-kelompok minoritas ini. n
Narendra Bakrie, SURABAYA
Banyak masyarakat umum yang mengangangap pasangan lesbian selalu menggunakan sex toys dalam melakukan hubungan badan. Namun, beberapa pasangan dari komunitas L ini dengan tegas menampiknya. Pasalnya, pasangan ini lebih menyukai sentuhan-sentuhan alami pasangannya. Sentuhan alami inilah yang membuat mereka mencapai kepuasan. Namun, ada juga yang lebih menyukai alat bantu seks yang dijual di sejumlah toko.
Bagi pasangan lesbian yang sudah bertahun-tahun membina hubungan, rasa saling mengerti dan bertanggungjawab menjadi hal utama yang ingin mereka ciptakan. Karena jika salah satu pasangan berkhianat, sangatlah sulit untuk mencari pengganti. Ketika keduanya ingin melampiaskan hasrat bilogisnya, pasangan lesbi akan diskusi lebih dahulu. Apakah akan menggunakan alat bantu seks (sex toys) ataukah dilakukan secara alami. “Kesepakatan itu sangat penting bagi kami. Ini untuk menghindari perpisahan diantara kami,” cerita Naomi (nama samaran), seorang lesbisan cewek (Fem), ditemui di sebuah kos-kosan daerah Kedungdoro, Rabu (12/2) malam.
Ia mengaku sudah membina hubungan dengan Buci (sebutan lesbian yang berperan cowok) selama 7 tahun. Fem yang bekerja perusahaan swasta di Surabaya ini mengatakan, selama membina hubungan dengan Buci-nya, dirinya menjalankan sama persis dengan keluarga pada umumya. “Ya ketika kita butuh berhubungan intim, ya langsung saja mas. Perasaan cinta dan setialah yang membuat kita berdua lebih cepat mencapai klimaks. Tak perlu sex toys. Secara basic jiwa kita kan sudah tak ngeh (suka) lagi dengan sex toys yang berbentuk alat kelamin laki-laki. Jadinya lucu dong, jika kita memaksakan hal itu. Bisa bisa kita berdua nggak bisa enjoy,” papar wanita asli Surabaya ini sambil tertawa lebar.
Sementara itu, pasangan lesbian yang masih duduk di bangku sekolah justru mengungkapkan fakta lain. Alih alih mengikuti tren, pasangan lesbian muda ini rata-rata mengaku lebih suka menggunakan sex toys untuk melampiaskan hasrat biologisnya. Meski harga sex toys lumayan mahal untuk mereka, namun tak ada masalah. Pasalnya, mereka mengaku membeli sex toys ini dengan cara patungan. Mereka mengaku, alat tersebut akan mereka gunakan secara bergantian sesama anggota kelompok.
“Kita kan pemula mas. Komunitas L kita hanya ingin mengikuti tren yang ada sekarang. Mungkin kita belum bisa mencapai hubungan spesial (layaknya berkeluarga) yang sudah dapat dicapai oleh senior-senior kami. Ketika kita dapat refrensi cara berhubungan pasangan yang sama dengan kita, ya itu yang akan kita lakukan. Maklum, kita masih muda dan bergairah. Eksperimen atas hubungan kita selalu kita lakukan. Itupun atas kesepakatan dari kita juga. Yang penting asyik dan membuat kita fun,” papar Mira, remaja 19 tahun ini dengan malu malu.
Dari pengakuan beberapa toko sex toys di Surabaya, produk-produk alat bantu seks yang mereka jual rata rata-terbeli oleh kelompok kelompok minoritas, seperti gay dan lesbian. Namun mereka tak memungkiri banyak pula pasangan normal yang membelinya. Meski para penjual tak mengetahui pasti jenis pasangan pembeli, tapi dari alat yang dibeli dapat ditebak mereka ini pasangan gay, lesbian atau normal. Bahkan para penjual ini tak membantah jika sudah memiliki pelanggan dari kelompok-kelompok minoritas ini. n
* Jual Obat Aborsi,,
BalasHapus* Obat Penggugur Kandungan Janin,,
* Obat Penggugur Kandungan,,
* what I have read on this page is enough to make me satisfied can menik die this article thanks greetings *
Jual Obat Aborsi ,
BalasHapusObat Aborsi Aasli ,
Obat Aborsi ,
Obat Aborsi Ampuh ,
Jual Obat Aborsi Manjur