TERKAIT:
Sampai tadi malam (20/6), wisma-wisma di lokalisasi Dolly dan Jarak tetap buka. Hanya wisma Barbara milik H. Saka yang tutup, lantaran setuju dengan penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu. Meski sejumlah pekerja seks komersial (PSK) siap melayani tamu, namun pengunjung yang datang ke Gang Dolly tidak langsung memboking. Ini membuat pendapatan PSK maupun mucikari drop.
Azis (37), salah seorang makelar PSK di Gang Dolly menuturkan, dua malam sejak deklarasi penutupan yang dilakukan Pemkot, cukup berdampak pada kehadiran tamu. Pendapatan yang diperolehnya jauh menurun, dibanding hari-hari sebelumnya. Jika biasanya Azis dapat menggaet 11-15 tamu,hingga pukul 21.00 WIb tadi malam, dirinya baru mendapatkan dua tamu. ”Ajor pokoke mas, sepi. Baru dapat dua tamu. Mereka yang datang kebanyakan lewat saja, hanya ingin mengetahui perkembangan Dolly”, ucap Azis dengan wajah lesu.
Hal sama juga diungkapkan Lita (27), bukan nama sebenarnya, salah seorang PSK di Gang Dolly. Sejak Pemkot mendeklarasikan penutupan, tamu yang biasanya ramai, kini menjadi sepi. Praktis ia dan sesame PSK lainnya banyak ngobrol dan becanda di ruang kaca wisma. Bagi Lita, kondisi ini menyakitkan, lantaran tiga hari sebelum puasa harus tutup. Sementara kebutuhan keluarganya terus berjalan dan meningkat jika puasa. “Apalagi nanti mau lebaran, kita bisa dapat apa kalau gini,” ujarnya pasrah.
Alevi, PSK kelahiran Indramayu 30 tahun lalu, punya cerita lain. Lantaran kondisi lokalisasi berubah, ia pun bersikap. Jika PSK lainnya masih enggan mengambil uang kompensasi dari Pemkot, wanita ini akhirnya datang ke Kantor Koramil Sawahan, untuk mengambil jatah Rp 5.o50.000 sebagai kompensasi penutupan Dolly dan Jarak. Apalagi, saat ini ia keadaan hamil 8 bulan."Perut saya semakin membesar, uang ini akan saya gunakan untuk biaya melahirkan," kata Alevi.
Alevi datang sendirian dengan pakaian ketat warna hitam. Perut buncitnya tak bisa disembunyikan ketika dia harus menghadapi serangkaian wawancara untuk memastikan identitasnya di meja petugas. Ia mengaku, selama ini dia bekerja di sebuah wisma yang ada di Gang 2 Nomor 5 Kelurahan Putat Jaya. "Saya dua tahun bekerja dan sekarang mengandung anak ini," ujar janda beranak dua ini. “Saya ke sini (Dolly) karena ditinggal suami,” imbuhnya.
Dari catatan yang ada, hingga dua hari pencairan ternyata tak banyak PSK dan Mucikari yang bersedia mengambil uang kompensasi penutupan ini. Hingga petang kemarin misalnya, baru 79 PSK dan 29 Mucikari yang telah menerima uang kompensasi. Sementara itu, terkait pembayaran uang kompensasi, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang jadwal pencairan. Jika awalnya batas waktu pencairan lima hari atau hingga Senin (23/6/2014), saat ini diperpanjang hingga hari Kamis (26/6) depan."Atas arahan pemerintah kota pemberian kompensasi kami perpanjang hingga tanggal 26 Juni," kata Kapten Riswarno, Komandan Koramil Sawahan.
Bebaskan 10 Wisma
Sedikitnya sudah ada sepuluh Wisma di bekas lokalisasi Dolly-Jarak telah berhasil dibebaskan Pemkot Surabaya. Total ada 311 wisma tersebar di lima RW di Kelurahan Putat Jaya. Dengan demikian mulai minggu depan proses rehabilitasi berupa pembangunan tempat-tempat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, sejumlah bangunan untuk program pemberdayaan masyarakat terdampak tersebut akan dijalankan dengan secepatnya. Apalagi sekarang ini jumlah wisma yang terus dibeli oleh Pemkot terus bertambah jumlahnya.
"Letaknya wisma yang kita beli itu memang tersebar di lokasi tersebut. Makanya kita sekarang membagi wisma-wisma itu untuk program pemberdayaan apa saja," kata Tri Rismaharini di DPRD Surabaya, Jumat (20/6).
Dijelaskan Risma, selain untuk gedung serbaguna berlantai enam nantinya di bekas wisma lokalisasi juga akan dibangun showroom cuci motor dan mobil, bengkel kendaraan, lapangan futsal dan lainnya. Dimana khusus untuk lapangan Fustal sangat diinginkan warga kelurahan Putat Jaya sebagai sarana kegiatan berolah raga. "Itu semua sudah kita setujui dan akan dibangun dalam tahap awal ini," ucap Risma.
Diakui Pemkot Surabaya menganggarkan dana senilai Rp 36 miliar untuk pembebasan tanah dan bangunan di kawasan lokalisasi Dolly-Jarak. "Tahun ini Rp 16 miliar, nanti tambah Rp 20 miliar untuk pembebasan," cetusnya. n dre/ov
Azis (37), salah seorang makelar PSK di Gang Dolly menuturkan, dua malam sejak deklarasi penutupan yang dilakukan Pemkot, cukup berdampak pada kehadiran tamu. Pendapatan yang diperolehnya jauh menurun, dibanding hari-hari sebelumnya. Jika biasanya Azis dapat menggaet 11-15 tamu,hingga pukul 21.00 WIb tadi malam, dirinya baru mendapatkan dua tamu. ”Ajor pokoke mas, sepi. Baru dapat dua tamu. Mereka yang datang kebanyakan lewat saja, hanya ingin mengetahui perkembangan Dolly”, ucap Azis dengan wajah lesu.
Hal sama juga diungkapkan Lita (27), bukan nama sebenarnya, salah seorang PSK di Gang Dolly. Sejak Pemkot mendeklarasikan penutupan, tamu yang biasanya ramai, kini menjadi sepi. Praktis ia dan sesame PSK lainnya banyak ngobrol dan becanda di ruang kaca wisma. Bagi Lita, kondisi ini menyakitkan, lantaran tiga hari sebelum puasa harus tutup. Sementara kebutuhan keluarganya terus berjalan dan meningkat jika puasa. “Apalagi nanti mau lebaran, kita bisa dapat apa kalau gini,” ujarnya pasrah.
Alevi, PSK kelahiran Indramayu 30 tahun lalu, punya cerita lain. Lantaran kondisi lokalisasi berubah, ia pun bersikap. Jika PSK lainnya masih enggan mengambil uang kompensasi dari Pemkot, wanita ini akhirnya datang ke Kantor Koramil Sawahan, untuk mengambil jatah Rp 5.o50.000 sebagai kompensasi penutupan Dolly dan Jarak. Apalagi, saat ini ia keadaan hamil 8 bulan."Perut saya semakin membesar, uang ini akan saya gunakan untuk biaya melahirkan," kata Alevi.
Alevi datang sendirian dengan pakaian ketat warna hitam. Perut buncitnya tak bisa disembunyikan ketika dia harus menghadapi serangkaian wawancara untuk memastikan identitasnya di meja petugas. Ia mengaku, selama ini dia bekerja di sebuah wisma yang ada di Gang 2 Nomor 5 Kelurahan Putat Jaya. "Saya dua tahun bekerja dan sekarang mengandung anak ini," ujar janda beranak dua ini. “Saya ke sini (Dolly) karena ditinggal suami,” imbuhnya.
Dari catatan yang ada, hingga dua hari pencairan ternyata tak banyak PSK dan Mucikari yang bersedia mengambil uang kompensasi penutupan ini. Hingga petang kemarin misalnya, baru 79 PSK dan 29 Mucikari yang telah menerima uang kompensasi. Sementara itu, terkait pembayaran uang kompensasi, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang jadwal pencairan. Jika awalnya batas waktu pencairan lima hari atau hingga Senin (23/6/2014), saat ini diperpanjang hingga hari Kamis (26/6) depan."Atas arahan pemerintah kota pemberian kompensasi kami perpanjang hingga tanggal 26 Juni," kata Kapten Riswarno, Komandan Koramil Sawahan.
Bebaskan 10 Wisma
Sedikitnya sudah ada sepuluh Wisma di bekas lokalisasi Dolly-Jarak telah berhasil dibebaskan Pemkot Surabaya. Total ada 311 wisma tersebar di lima RW di Kelurahan Putat Jaya. Dengan demikian mulai minggu depan proses rehabilitasi berupa pembangunan tempat-tempat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, sejumlah bangunan untuk program pemberdayaan masyarakat terdampak tersebut akan dijalankan dengan secepatnya. Apalagi sekarang ini jumlah wisma yang terus dibeli oleh Pemkot terus bertambah jumlahnya.
"Letaknya wisma yang kita beli itu memang tersebar di lokasi tersebut. Makanya kita sekarang membagi wisma-wisma itu untuk program pemberdayaan apa saja," kata Tri Rismaharini di DPRD Surabaya, Jumat (20/6).
Dijelaskan Risma, selain untuk gedung serbaguna berlantai enam nantinya di bekas wisma lokalisasi juga akan dibangun showroom cuci motor dan mobil, bengkel kendaraan, lapangan futsal dan lainnya. Dimana khusus untuk lapangan Fustal sangat diinginkan warga kelurahan Putat Jaya sebagai sarana kegiatan berolah raga. "Itu semua sudah kita setujui dan akan dibangun dalam tahap awal ini," ucap Risma.
Diakui Pemkot Surabaya menganggarkan dana senilai Rp 36 miliar untuk pembebasan tanah dan bangunan di kawasan lokalisasi Dolly-Jarak. "Tahun ini Rp 16 miliar, nanti tambah Rp 20 miliar untuk pembebasan," cetusnya. n dre/ov
Tidak ada komentar:
Posting Komentar