Jumat, 20 Juni 2014

Penjual Meterai

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~Penjual-Meterai;f2f2c23b88eaecf168caf29cfda3784bf045cf6175af80415391216fc9d121b9


Sriani, duduk di pagar kantor pos besar Jl. Kebun Rojo Surabaya. Ia mengawasi gerak-gerik petugas Satpol PP yang berdiri di sepanjang trotoar Kantor Pos besar. Lainnya duduk-duduk di pagar. Maklum, pagar kantor pos besar memang lebar. Beton pagar yang dicat hitam-putih ini peninggalan Belanda. Ia begitu kokoh. Kekokohan pagar sama dengan kokohnya para petugas Satpol PP yang tidak beranjak dari depan Kantor Pos Besar. "Kurangajar itu orang pak. Mulai isuk wis obrak-abrik bakul meterai," tambah Sriani, sambil ngos-ngosan. Perempuan kelahiran Sampang ini, baru lari-lari mengambil bedak berisi meterai yang ia sembunyikan di lorong Jl. Kepanjen. "Wong cilik koyok kulo niki serba susah," ungkapnya dengan wajah memelas. Serba susahnya, mencari pekerjaan tetap sulit. Jadi pembantu rumah tidak kerasan. Akhirnya memilih berwiraswasta jualan meterai, amplop dan minuman. Sampai pukul 11.00 siang, praktis ia belum mendapat penglaris, sebab rombongnya di razia. Ia lari tunggang langgang saat petugas Satpol PP turun dari mobil. "Saya belum sarapan, belum dapat pembeli, tapi wis mlayu-mlayu. Nasib-nasib," katanya sambil menata seweknya (kain sarung) yang sudah kusam. Di sebelahnya, ada perempuan asal Bojonegoro yang ngaku usianya sudah 49 tahun. Perempuan gembrot ini mewarnai kuku tangannya dengan kitek coklat. Alasan mewarnai kuku tangannya, agar suaminya yang menjadi tukang parkir di kantor pos besar senang dengan dia. "Ojok dikiro wong cilik koyok kulo niki gak isok cemburu," jelas perempuan yang tiap hari menunggu suaminya tak jauh dari tempat parkir.

Kisah dua perempuan ini menarik untuk disimak. Meski miskin, aktivitas kedua perempuan ini tak mau kalah dengan warga kota lainnya. Bedanya, mereka mengaku serba salah. Lalu, siapa yang disalahkan? Pantaskan kita menyalahkan mereka sendiri. Mengapa mau menjadi orang miskin? Jawaban ini tidak layak dibidikkan ke mereka. Sebagai manusia, keduanya tidak pernah bermimpi menjadi orang miskin di Surabaya. Sriani misalnya, hari ini ia ingin bisa membeli beras sekilo. Baginya, pendapatan bersih beras satu kilo harus disyukuri, karena tiap hari, terutama Senin sampai Jumat sejak pagi jam 07.00 sampai jam 13.00, praktis tidak bisa mengais uang. Mengapa? Trotoar tempat berdagang meterai, amplop dan keperluan pos dibersihkan Satpol PP. Sriani, berharap Pemkot Surabaya memikirkan lokasi lapak penjual meterai di sepanjang jalan Kebon rojo. Ia ingin lapaknya ditata seperti tukang sol sepatu yang dulu membuka usaha di sepanjang trotoar Bank Indonesia. Kini tukang sepatu dipindah ke trotoar Jl. Bubutan, mulai Pasar turi sampai tikungan Jl. Indragiri. Sementara penjual meterai, delik-delikkan dengan petugas Satpol PP. Akankah di Surabaya, tidak diberi peluang PKL penjual amplop, meterai dan benda pos di gedung peninggalan Belanda Jl. Kebun Rojo. Semua kembali pada Walikota Risma. Kita bisa bertanya pada Bu Risma, masih adakah secuil hatinya memikirkan sektor informal penjual benda-benda pos di Surabaya. Atau Bu Risma, tidak mau kenal dengan PKL benda-benda Pos. Mengapa? Walikota Risma bisa jadi tidak pernah melongok gedung kuno di belahan Surabaya Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar