Kamis, 19 Juni 2014

ABG Lita, Baru 3 Bulan Gabung dalam Komunitas Lesbian dan Nyaman


http://www.surabayapagi.com/index.php?read=ABG-Lita,-Baru-3-Bulan-Gabung-dalam-Komunitas-Lesbian-dan-Nyaman;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962ed761d41c71ac936252db953cdd334d1


Beginilah gaya komunitas lesbi di Surabaya yang ditemukan di sebuah karaoke di Surabaya Timur.
Tren kehidupan lesbian atau penyuka sesama wanita, yang dulu fokus di warung samping Hotel Simpang dan sebuah klub malam di Plaza Simpang Dukuh. Kini merangsek ke beberapa tempat karoeke dan klub malam. Jumlahnya kian subur. Tapi di Surabaya, tongkrongannya belum semenyolok kaum gay atau homoseksual. Kaum penyuka sesama jenis lelaki ini punya tempat cangkrukan di Gang Pattaya (depan Monkasel). Mengapa kaum lesbian lebih suka kumpul-kumpul di tempat karaoke atau rumah hiburan lainnya? Bagaimana mengenali perempuan itu kelompok lesbian atau bukan? Berikut ini penelusuran wartawan Surabaya Pagi.

Narendra Bakrie, SURABAYA

Minor dan Minoritas. Itulah anggapan masyarakat umum kSurabaya terhadap komunitas yang selama ini dianggap aneh dan menyimpang ini. Namun anggapan buruk itu tak dihiraukan oleh gadis-gadis cantik yang masuk komunitas lesbi ini. Justru mereka asyik menikmati sisi lain kehidupannya. Tak jarang, komunitas ini melakukan kaderisasi untuk merekrut anggota barunya. Amati saja di berbagai tempat hiburan malam yang tersebar di kota Surabaya. Biasanya cewek-cewek ini bergerombol, tanpa ada satu cowok pun.

Kehidupan mereka memang terkesan tertutup. Namun, sesama anggota komunitasnya, mereka cukup terbuka dan seperti layaknya keluarga. Pada umumnya komunitas penyuka sesama jenis perempuan ini disebut lesbian. Namun, kaum lesbi sendiri tak pernah menyebut dengan kata-kata lesbi. Ada tiga sebutan bagi mereka.

Dari pengakuan Lita (nama samaran) kepada Surabaya Pagi, untuk perempuan yang berperan sebagai laki-laki, biasa mereka sebut “Buci”. Sedangkan yang tetap menjadi perempuan, mereka menyebutnya “Fem”. Sementara mereka menyebut NL atau No Label untuk anggota lesbian yang dapat berperan menjadi laki-laki dan perempuan. “Okelah, mereka semua (masyarakat umum) menyebut kita salah jalur. Tapi inilah kehidupan Kami. Meski mereka menyudutkan kami, terpenting, kami tak mengganggu orang lain. Kami para L (sebutan mereka untuk lesbian, red) selama ini saling membantu dan melengkapi kok," papar cewek No Label yang mengaku masih berumur 17 tahun ini saat diwawancarai Surabaya Pagi di salah satu tempat karaoke di kawasan Surabaya Timur, Sabtu (8/2/2014) malam lalu, usai berkaraoke dengan enam anggota komunitas Lesbian.

Lita yang asli Sidoarjo ini juga mengaku, dirinya baru masuk dalam komunitas ini 3 bulan lalu. Awalnya, dirinya hanya diajak nongkrong di kafe oleh teman sekelasnya yang ternyata sudah masuk dalam komunitas lesbi lebih dulu. Karena merasa cocok dengan kehidupan kaum lesbi, dirinya akhirnya memutuskan untuk bergabung dan mengikuti setiap agenda yang mereka buat. “Sekarang kami lebih suka karaoke bersama. Lebih private dan tak ada yang mengganggu. Di dalam room, kami juga bias saling mengungkapkan kebersamaan. Meski hanya sekedar ciuman saja. Karena saya No Label, maka saya bebas dengan L lainnya yang belum memiliki pasangan,” aku pelajar SMA yang gemar mengenakan baju merah ini.

Lain halnya dengan Ratna (juga nama samaran). Dirinya yang berperan sebagai Fem ini mengaku jika ketika mereka sudah mendapatkan pasangannya (baik Buci atau NL), mereka akan menjalani hubungan seperti layaknya orang normal. Meski ada beberapa yang mengaku tak setia, tapi kebanyakan dari mereka mengaku setia. Ratna mengakui jika dirinya adalah Fem ketiga dari salah satu Buci yang ada di dalam komunitasnya tersebut. “Kami biasa minum dan merokok bareng seperti orang pacaran pada umumnya. Belanja bareng, aktifitas bareng-bareng juga. Suka duduk bareng bareng deh pokoknya,” ungkap gadis 20 tahun yang mengaku masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya ini seraya menyebut Komunitas L yang dia ikuti adalah Red L Community.

Menanggapi ini, Kasatpol PP Kota Surabaya Irfan Widiyanto tak menampik jika komunitas yang disinyalir sebagai kaum lesbian semakin banyak. Dari catatan pihaknya dalam beberapa kesempatan razia. Banyak ditemukan komunitas ini menghabiskan waktu di beberapa tempat karaoke di Surabaya.”Meski kita duga mereka adalah lesbian, namun mereka tak pernah mengakui ketika kita data. Namun karena dugaan kita kuat, untuk meluruskan mereka, Kita datangkan Psikolog dari Bappemas untuk memberikan pengarahan secara psikologis untuk beberapa hari. Setelah itu, mereka langsung kita pulangkan,” ungkap Irfan dihubungi terpisah, Selasa (11/02) kemarin.

Secara umum, lanjut Irfan. Komunitas ini mempunyai ciri cirri yang cukup dapat dengan mudah ditebak. Terutama dari pakaian. “Seperti beberapa waktu lalu, kita mendapati komunitas ini sedang berkaraoke ria di salah satu tempat karaoke di daerah Gunung Anyar. Mereka semua berpakaian merah. Semuanya perempuan dalam satu room. Meski beberapa berambut pendek, namun beberapa lagi berambut panjang. Setelah kita data, ternyata mereka berasal dari Sidoarjo dan Surabaya. Ada yang karyawan swasta, pelajar serta mahasiswi”, ujar Irfan. n








Tidak ada komentar:

Posting Komentar