Yth calon Pemilih Pilpres,
Deklarasi damai kedua peserta pemilu presiden (pilpres) telah diucapkan oleh capres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Keduanya mengucapkan ikrar kampanye pemilu tidak hanya di depan undangan yang hadir di Hotel Bidakara, Jakarta. Tetapi juga didengar pemirsa dari beberapa TV swasta,karena deklarasi disiarkan secara langsung dari tempat membacaan ikrar. Menariknya, deklarasi ini menggunakan tajuk "Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai' . Saya tergelitik bertanya, siapa yang dimaksud dalam topik itu. Sebab pemahaman Pemilu berintegritas itu maknanya luas sekali. Mengapa tidak difokuskan "Deklarasi damai Capres-cawapres Berintegritas". Mengingat, menjelang kampanye, kubu kedua capres riuh melakukan kampanye negatif dan kampanye hitam. Dari membaca dinamika politik teraktual, KPU sepertinya kurang kritis.
Sebagai warga negara yang terdaftar sebagai calon pemilih, saya menilai topik itu melebar kemana-mana. Ahli marketing menuding topik itu tidak fokus. Topik itu justru melebar kemana-mana, ya penyelenggara pemilu yaitu KPU dan Bawaslu, capres-cawapres, tim suksesnya, anggota koalisi dan calon pemilih, termasuk pengamat politik. Maka itu dengan mencermati topik deklarasi, akal sehat saya bilang KPU telah menyiapkan deklarasi damai dengan "Luar biasa". Mudah-mudahan kehendak damai benar-benar dilakukan oleh capres-cawapres bersama tim suksesnya dengan cara-cara berintegritas.
Yth calon Pemilih Presiden,
Saya mengajak Anda untuk memaknai pengertian berintegritas agar mudah pemahaman mengoperasionalkan. Sebab integritas itu campuran perilaku, etika dan moral. Untuk menyamakan persepsi, ada baiknya saya ungkapkan
asal - usul kata integritas. Kata itu berasal dari bahasa Latin yaitu "integrate", yang artinya Komplit, utuh dan sempurna (tidak ada cacat). Dengan demikian, pemahaman pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang tanpa kedok. Artinya, sosok atau figur pemimpin yang bertindak sesuai dengan ucapan yaitu satunya kata (yang diucapkan) dengan yang diperbuat, termasuk yang ada dalam hatinya (nawaitu). Pemahaman lebih tajam tentang pemimpin yang berintegritas adalah orang yang konsisten antara apa yang diimani dan perilakunya. Atau antara sikap dan tindakan atau antara nilai hidup yang dijalani dengan nilai-nilai yang diikrarkan. Pendeknya, pemimpin yang berintegritas adalah orang-orang yang menjalankan kehidupannya tanpa kompromi. Pemimpin yang berintegritas lebih religius adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. Artinya, seorang pemimpin yang memiliki integritas adalah pemimpin yang memiliki integritas dalam moral dan etika.
Yth calon Pemilih Presiden,
Saya mengajak Anda untuk berkontemplasi akankah capres Prabowo dan Jokowi, sama-sama merealisasikan janji-janjinya. Dari meja redaksi, saya menyampaikan pesan moral kepada Anda, karena saya berbicara dan menulis menggunakan tolok ukur manusia berintegritas. Pesan moral saya "jangan percaya, jangan terkecoh dan jangan terbuai" oleh ikrar, janji dan ucapan politikus yang sedang "berdinas" dalam politik praktis.
Alasan saya, umumnya politikus berkampanye, termasuk berjanji bahkan bersumpah, kualitasnya ya tetap sebagai politikus dan bukan pemuka agama. Maka itu, saya mengenalkan kepada Anda akronimnya dari politikus. Plesetan kata politikus terdiri dari "poli" yaitu ruangan dan "tikus" binatang yang suka mengganggu, membuat rusuh, kotor dan kenyamanan hidup di rumah tangga, sawah dan perkantoran.
Selama bergaul dengan beberapa politisi di Jakarta maupun di Surabaya, saya sangat hapal dengan sifat seorang politisi yang cenderung pragmatis. Maka itu, dengan politisi dari partai manapun (saya tidak percaya di Indonesia ada partai Islam, yang ada partai menggunakan jargon Islam) saya tidak pernah memasukkan janji-janjinya dalam agenda kerja. Mengapa? Karena janjinya selalu berubah-ubah. Pemahaman yang dapat saya tularkan ke Anda sebagai calon pemilih (terutama pemilih pemula), pribadi politikus itu acapkali antagonis, mendua atau ambigu. Pengalaman yang saya petik, kadang di suatu tempat, seorang politikus, bisa berkata benar dan jujur, tetapi di tempat lain,dia bisa berkata bohong. Menariknya, ada beberapa politikus yang kadang bicara keras dan kasar, kadang-kadang bisa manis dan lembut intonasinya. Bahkan dalam perjalanan mengenal kepribadiannya, saya memiliki kenangan bahwa seorang politikus itu suka beramal, tapi acapkali berperilaku amat serakah. Bahkan ada politikus yang kadang seolah-olah menghamburkan uang tanpa perhitungan, kadang menumpuk kekayaan untuk dirinya tanpa dasar kebenaran. Maklum, rata-rata politikus yang saya kenali sejak tahun 1977 adalah politisi pragmatis yang suka berubah-ubah.
Nah dengan "hajatan demokrasi" yang di gelar setiap 5 tahunan sekali ini, saya mengajak teman-teman calon pemilih termasuk adik-adik dan kakak-kakak untuk selalu menggunakan akal sehat,kecerdasan dan hati-nurani. Mengapa? Goal dari semua Partai Politik yang mengusung dan mendukung (ikut koalisi) capres-cawapres hanya satu yaitu raihan suara yang maksimal. Secara akal sehat, disitu ada "perhitungan bisnis" yaitu dana kampanye yang "saya" (capres-cawapres) yang dikeluarkan bisa "laba" (kemenangan) dengan hasil yang diperolehnya. Kondisi yang demikian jelas akan menuntut persaingan yang sangat ketat. Secara akal sehat persaingan antara "dua capres-cawapres"ini menghasilkan rumus : hanya caleg yang berkenan di hati rakyat, yang bakal berkantor di Istana Negara, Istana Bogor, Istana Tapaksiring Bali dan naik pesawat pribadi berwarna biru laut seperti warna dasar bendera Partai Demokrat.
Pertanyaan yang saya lempar ke Anda calon pemilih, akankah Anda yang secara nalar makin terdidik, mudah dirayu oleh ikrar dan janji politikus?.
Dengan menggunakan kecerdasan yang meski tidak segenius ( angka 152 seperti capaian capres Prabowo), saya mengkalkulasi jumlah pemilih cerdas akan semakin banyak. Cerdas disini tidak hanya calon pemilih yang berpendidikan sarjana semata, tetapi juga meliputi pedagang kaki lima dan di pasar tradisional. Kecerdasan mereka terkait dengan kebiasaan mereka menghitung uang masuk (cash-in) dan uang keluar (cash out) serta keseimbangannya. Jadi,akal sehat saya bilang bahwa setiap capres yang kini maju sama-sama dituntut kerja keras. Apa itu? Kerja keras untuk merebut nurani rakyat. Ini tidak cukup gampang peraihannya. Makanya, praktik politik uang sering digunakan sebagai jurus tim sukses untuk merayu calon pemilih yang bisa diajak nego dengan iming-iming uang atau materi. untuk diraih dalam suasana politik kekinian.
Yth calon Pemilih Presiden,
Dalam masa kampanye sekarang ini, saya ingin menyatukan langkah dengan Anda semua sebagai rakyat yang cerdas dan kritis. Menyatukan langkah untuk tidak gegabah memilih capres yang sekarang bermain akrobat dengan berbagai gaya dan manuver agar dilirik dan dipilih rakyat. Ibaratnya, saat ini, masa kampanye, kedua capres-cawapres sedang berjualan. Mereka "menjual diri" agar disukai rakyat dan tanggal 9 Juli nanti dipilih oleh rakyat. Nah, Anda sebagai "calon pembeli" harus benar-benar jeli. Jangan sampai Anda membeli kucing dalam karung. Mengingat, capres-cawapres yang sekarang bertarung sedang berjualan dan berpromosi. Otomatis, mereka mengundang konsultan marketing politik dan public relation. Anda pun juga perlu tahu. Dengan tahu, Anda bisa waspada atau tidak terkecoh. Apa itu? Saat ini, setiap capres-cawapres, selain membayar ratusan juta sampai satu angka dalam hitungan miliaran kepada konsultan marketing, juga "membayar" distributor,agen,sub agen dan SPG. Bentuk distributor, agen, sub agen dan salesman bisa berwujud nama-nama relawan, laskar, pendukung dsbnya. Akal sehat manusia akan mengerti fenomena sosial yaitu "masuk kamar mandi terminal Bungurasih saja membayar", apalagi menggerakkan tenaga kerja manusia untuk meneriakkan yel-yel, berdemo sampai pasang badan untuk beradu fisik. Jadi dengan akal sehat saya bilang, di dunia ini tidak ada pekerjaan yang gratis. Semua membutuhkan uang yaitu ada yang sebagai investasi dan dana operasional.
Akhirnya, saya berpesan kepada Anda jangan terpesona dengan visi,misi dan program capres-cawapres yang kini bisa diakses di internet dan youtube. Menggunakan sudutpandang bisnis (terutama bisnis sosial), saya berpesan, perhatian janji dan program capres yang melangit seolah-olah capres itu bisa mengecat langit. Perhatikan dan cermati visi, misi dan program capres-cawapres yang tidak riil dengan kehidupan nyata mayoritas rakyat Indonesia sekarang. Apa itu? Pilih capres yang riil memiliki program kehidupan nyata yaitu yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat di sektor sandang,pangan dan papan. Dari hasil survey saya ke pasar tradisional dan rumah di kampung-kampung, mayoritas rakyat butuh program-program capres-cawapres yang langsung menyentuh kehidupan. Kesimpulannya, program capres-cawapres yang tidak mengacu pada fakta kehidupan rakyat yang sesungguhnya, abaikan, tinggalkan dan ucapkan "mau nipu nih ye". (Bersambung, tatangistiawan@gmail.com)
Deklarasi damai kedua peserta pemilu presiden (pilpres) telah diucapkan oleh capres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Keduanya mengucapkan ikrar kampanye pemilu tidak hanya di depan undangan yang hadir di Hotel Bidakara, Jakarta. Tetapi juga didengar pemirsa dari beberapa TV swasta,karena deklarasi disiarkan secara langsung dari tempat membacaan ikrar. Menariknya, deklarasi ini menggunakan tajuk "Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai' . Saya tergelitik bertanya, siapa yang dimaksud dalam topik itu. Sebab pemahaman Pemilu berintegritas itu maknanya luas sekali. Mengapa tidak difokuskan "Deklarasi damai Capres-cawapres Berintegritas". Mengingat, menjelang kampanye, kubu kedua capres riuh melakukan kampanye negatif dan kampanye hitam. Dari membaca dinamika politik teraktual, KPU sepertinya kurang kritis.
Sebagai warga negara yang terdaftar sebagai calon pemilih, saya menilai topik itu melebar kemana-mana. Ahli marketing menuding topik itu tidak fokus. Topik itu justru melebar kemana-mana, ya penyelenggara pemilu yaitu KPU dan Bawaslu, capres-cawapres, tim suksesnya, anggota koalisi dan calon pemilih, termasuk pengamat politik. Maka itu dengan mencermati topik deklarasi, akal sehat saya bilang KPU telah menyiapkan deklarasi damai dengan "Luar biasa". Mudah-mudahan kehendak damai benar-benar dilakukan oleh capres-cawapres bersama tim suksesnya dengan cara-cara berintegritas.
Yth calon Pemilih Presiden,
Saya mengajak Anda untuk memaknai pengertian berintegritas agar mudah pemahaman mengoperasionalkan. Sebab integritas itu campuran perilaku, etika dan moral. Untuk menyamakan persepsi, ada baiknya saya ungkapkan
asal - usul kata integritas. Kata itu berasal dari bahasa Latin yaitu "integrate", yang artinya Komplit, utuh dan sempurna (tidak ada cacat). Dengan demikian, pemahaman pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang tanpa kedok. Artinya, sosok atau figur pemimpin yang bertindak sesuai dengan ucapan yaitu satunya kata (yang diucapkan) dengan yang diperbuat, termasuk yang ada dalam hatinya (nawaitu). Pemahaman lebih tajam tentang pemimpin yang berintegritas adalah orang yang konsisten antara apa yang diimani dan perilakunya. Atau antara sikap dan tindakan atau antara nilai hidup yang dijalani dengan nilai-nilai yang diikrarkan. Pendeknya, pemimpin yang berintegritas adalah orang-orang yang menjalankan kehidupannya tanpa kompromi. Pemimpin yang berintegritas lebih religius adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. Artinya, seorang pemimpin yang memiliki integritas adalah pemimpin yang memiliki integritas dalam moral dan etika.
Yth calon Pemilih Presiden,
Saya mengajak Anda untuk berkontemplasi akankah capres Prabowo dan Jokowi, sama-sama merealisasikan janji-janjinya. Dari meja redaksi, saya menyampaikan pesan moral kepada Anda, karena saya berbicara dan menulis menggunakan tolok ukur manusia berintegritas. Pesan moral saya "jangan percaya, jangan terkecoh dan jangan terbuai" oleh ikrar, janji dan ucapan politikus yang sedang "berdinas" dalam politik praktis.
Alasan saya, umumnya politikus berkampanye, termasuk berjanji bahkan bersumpah, kualitasnya ya tetap sebagai politikus dan bukan pemuka agama. Maka itu, saya mengenalkan kepada Anda akronimnya dari politikus. Plesetan kata politikus terdiri dari "poli" yaitu ruangan dan "tikus" binatang yang suka mengganggu, membuat rusuh, kotor dan kenyamanan hidup di rumah tangga, sawah dan perkantoran.
Selama bergaul dengan beberapa politisi di Jakarta maupun di Surabaya, saya sangat hapal dengan sifat seorang politisi yang cenderung pragmatis. Maka itu, dengan politisi dari partai manapun (saya tidak percaya di Indonesia ada partai Islam, yang ada partai menggunakan jargon Islam) saya tidak pernah memasukkan janji-janjinya dalam agenda kerja. Mengapa? Karena janjinya selalu berubah-ubah. Pemahaman yang dapat saya tularkan ke Anda sebagai calon pemilih (terutama pemilih pemula), pribadi politikus itu acapkali antagonis, mendua atau ambigu. Pengalaman yang saya petik, kadang di suatu tempat, seorang politikus, bisa berkata benar dan jujur, tetapi di tempat lain,dia bisa berkata bohong. Menariknya, ada beberapa politikus yang kadang bicara keras dan kasar, kadang-kadang bisa manis dan lembut intonasinya. Bahkan dalam perjalanan mengenal kepribadiannya, saya memiliki kenangan bahwa seorang politikus itu suka beramal, tapi acapkali berperilaku amat serakah. Bahkan ada politikus yang kadang seolah-olah menghamburkan uang tanpa perhitungan, kadang menumpuk kekayaan untuk dirinya tanpa dasar kebenaran. Maklum, rata-rata politikus yang saya kenali sejak tahun 1977 adalah politisi pragmatis yang suka berubah-ubah.
Nah dengan "hajatan demokrasi" yang di gelar setiap 5 tahunan sekali ini, saya mengajak teman-teman calon pemilih termasuk adik-adik dan kakak-kakak untuk selalu menggunakan akal sehat,kecerdasan dan hati-nurani. Mengapa? Goal dari semua Partai Politik yang mengusung dan mendukung (ikut koalisi) capres-cawapres hanya satu yaitu raihan suara yang maksimal. Secara akal sehat, disitu ada "perhitungan bisnis" yaitu dana kampanye yang "saya" (capres-cawapres) yang dikeluarkan bisa "laba" (kemenangan) dengan hasil yang diperolehnya. Kondisi yang demikian jelas akan menuntut persaingan yang sangat ketat. Secara akal sehat persaingan antara "dua capres-cawapres"ini menghasilkan rumus : hanya caleg yang berkenan di hati rakyat, yang bakal berkantor di Istana Negara, Istana Bogor, Istana Tapaksiring Bali dan naik pesawat pribadi berwarna biru laut seperti warna dasar bendera Partai Demokrat.
Pertanyaan yang saya lempar ke Anda calon pemilih, akankah Anda yang secara nalar makin terdidik, mudah dirayu oleh ikrar dan janji politikus?.
Dengan menggunakan kecerdasan yang meski tidak segenius ( angka 152 seperti capaian capres Prabowo), saya mengkalkulasi jumlah pemilih cerdas akan semakin banyak. Cerdas disini tidak hanya calon pemilih yang berpendidikan sarjana semata, tetapi juga meliputi pedagang kaki lima dan di pasar tradisional. Kecerdasan mereka terkait dengan kebiasaan mereka menghitung uang masuk (cash-in) dan uang keluar (cash out) serta keseimbangannya. Jadi,akal sehat saya bilang bahwa setiap capres yang kini maju sama-sama dituntut kerja keras. Apa itu? Kerja keras untuk merebut nurani rakyat. Ini tidak cukup gampang peraihannya. Makanya, praktik politik uang sering digunakan sebagai jurus tim sukses untuk merayu calon pemilih yang bisa diajak nego dengan iming-iming uang atau materi. untuk diraih dalam suasana politik kekinian.
Yth calon Pemilih Presiden,
Dalam masa kampanye sekarang ini, saya ingin menyatukan langkah dengan Anda semua sebagai rakyat yang cerdas dan kritis. Menyatukan langkah untuk tidak gegabah memilih capres yang sekarang bermain akrobat dengan berbagai gaya dan manuver agar dilirik dan dipilih rakyat. Ibaratnya, saat ini, masa kampanye, kedua capres-cawapres sedang berjualan. Mereka "menjual diri" agar disukai rakyat dan tanggal 9 Juli nanti dipilih oleh rakyat. Nah, Anda sebagai "calon pembeli" harus benar-benar jeli. Jangan sampai Anda membeli kucing dalam karung. Mengingat, capres-cawapres yang sekarang bertarung sedang berjualan dan berpromosi. Otomatis, mereka mengundang konsultan marketing politik dan public relation. Anda pun juga perlu tahu. Dengan tahu, Anda bisa waspada atau tidak terkecoh. Apa itu? Saat ini, setiap capres-cawapres, selain membayar ratusan juta sampai satu angka dalam hitungan miliaran kepada konsultan marketing, juga "membayar" distributor,agen,sub agen dan SPG. Bentuk distributor, agen, sub agen dan salesman bisa berwujud nama-nama relawan, laskar, pendukung dsbnya. Akal sehat manusia akan mengerti fenomena sosial yaitu "masuk kamar mandi terminal Bungurasih saja membayar", apalagi menggerakkan tenaga kerja manusia untuk meneriakkan yel-yel, berdemo sampai pasang badan untuk beradu fisik. Jadi dengan akal sehat saya bilang, di dunia ini tidak ada pekerjaan yang gratis. Semua membutuhkan uang yaitu ada yang sebagai investasi dan dana operasional.
Akhirnya, saya berpesan kepada Anda jangan terpesona dengan visi,misi dan program capres-cawapres yang kini bisa diakses di internet dan youtube. Menggunakan sudutpandang bisnis (terutama bisnis sosial), saya berpesan, perhatian janji dan program capres yang melangit seolah-olah capres itu bisa mengecat langit. Perhatikan dan cermati visi, misi dan program capres-cawapres yang tidak riil dengan kehidupan nyata mayoritas rakyat Indonesia sekarang. Apa itu? Pilih capres yang riil memiliki program kehidupan nyata yaitu yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat di sektor sandang,pangan dan papan. Dari hasil survey saya ke pasar tradisional dan rumah di kampung-kampung, mayoritas rakyat butuh program-program capres-cawapres yang langsung menyentuh kehidupan. Kesimpulannya, program capres-cawapres yang tidak mengacu pada fakta kehidupan rakyat yang sesungguhnya, abaikan, tinggalkan dan ucapkan "mau nipu nih ye". (Bersambung, tatangistiawan@gmail.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar