TERKAIT:
SURABAYA (Surabaya Pagi) – Meski lokalisasi Dolly dan Jarak ditutup, praktik prostitusi di Surabaya tak akan habis. Justru diprediksi bakal marak. Pasalnya, pekerja seks komersial (PSK) akan memanfaatkan transaksi seksual di hotel-hotel dan kos-kosan bebas. Apalagi, Pemkot Surabaya mengobral ijin pendirian hotel-hotel baru. Tahun 2013 saja, Dinas Kebudayan dan Pariwasata (Disbudparta) mengeluarkan ijin 35 hotel baru. Belum lagi maraknya hotel short time dan homestay yang berdiri di tengah perkampungan warga.
Tanda-tanda prositusi di hotel dan kos-kosan itu terlihat saat Surabaya Pagi melakukan pengecekan di sejumlah hotel dan kos-kosan bebas di sekitar Dolly, Rabu (18/6). Seperti tampak di Hotel Kembang dan Hotel LA, Jalan Pasar Kembang, sekitar 1 km dari lokalisasi Dolly. "Tadi malam (Selasa malam, red) ramai mas," ucap Boyo, salah satu karyawan Hotel Kembang.
Ia mengakui sejak kabar penutupan Dolly, pengunjung yang check in mengalami peningkatan. Kebanyakan yang menginap memang pasangan pria dan wanita. Tarif di hotel short time ini cukup terjangkau. Mulai dari harga Rp 110.000 dengan fasilitas tempat tidur dan kipas angin, Rp 150.000 fasilitas tempat tidur dan AC, hingga harga Rp 200.000 dengan fasilitas tempat tidur, AC dan TV.
Hotel-hotel murah dan terjangkau ini bisa menjadi tempat PSK Dolly – Jarak yang on call. Berdasar informasi warga, hotel short time di sepanjang Jalan Pasar Kembang ini biasa dimanfaatkan pasangan mesum atau pasangan selingkuh. “PSK-nya juga ada. Biasanya mereka yang cari tamu di tempat hiburan. Dulu sewaktu Jalan Diponegoro dan Bambu Runcing masih banyak PSK, ya di hotel-hotel ini mereka melayani,” tutur seorang warga Kupang.
Selain hotel, pemilik kos-kosan bebas di daerah Kupang dan sekitarnya juga diuntungkan penutupan Dolly. Pantauan di daerah Kupang Krajan, kos-kosan bebas di sana penuh. Hal sama sama juga tampak di daerah Tempel Sukorejo dan Wonorejo. Tarif kos-kosan bebas di sana mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta per bulan. Sedang penghuni kos-kosan bebas di sana, rata-rata pekerja hiburan malam dan purel.
Tomo, nama disamarkan, salah satu pelanggan Dolly ini mengaku ia tak khawatir jika Dolly dan Jarak ditutup. Sebab, untuk mendapatkan PSK mudah ditemukan di kos-kosan bebas. PSK di Dolly juga mudah dihubungi lewat ponsel maupun BBM (Blackberry Messenger). “Gak susah, BBM mucikari atau PSK-nya udah bisa," ungkap pria kelahiran Sampang Madura tersebut.
Dirinya meyakini, tidak mudah menghapus prostitusi di Surabaya. "Meski Dolly ditutup, banyak hotel-hotel dan kos-kosan, mereka (PSK) itu butuh uang. Mereka on call jika Dolly ditutup," tukas pria berbadan jangkung tersebut.
Hal sama juga diungkapkan Joshua, nama disamarkan, pelanggan Dolly lainnya. Ia mengaku terakhir 'jajan' ke Dolly, pada Selasa (17/4/2014) malam sebelum Dolly ditutup. "Saya ke Dolly karena dihubungi PSK langganannya. Dia bilang 'Mas, nggak ke sini ta, ini malam terakhir, besok (tadi malam, red) sudah tutup lho'," ujarnya menirukan rayuan PSK itu.
Menurut penuturan PSK langganannya tersebut, pasca Dolly ditutup, mereka tetap akan beroperasi mencari pria hidung belang melalui perantara atau makelar. Modusnya menerima panggilan untuk melayani pelanggan di hotel atau kamar kos si PSK. "Walaupun Dolly ditutup, sebagian besar PSK tetap akan menghuni kos di sekitar Dolly sampai jelang Lebaran tahun ini. Mereka beralasan karena banyak PSK mengaku di keluarganya bekerja sebagai buruh pabrik, SPG atau karyawan salon. Kalau pulang kampung sekarang, takut dicurigai keluarga atau tetangga rumahnya," ungkapnya.
Kemungkinan paling buruk, lanjut dia, PSK langganannya itu akan mencari tempat lokalisasi lain di luar Jawa Timur, seperti Bali, Batam atau Yogyakarta. "Saya sebagai pelanggan Dolly tidak masalah kalau Dolly ditutup. Ini karena saya iba dan tahu keluh kesah para PSK yang banyak mengaku terpaksa menjajakan dirinya," tutur pria murah senyum ini.
Sementara informasi yang dihimpun dari warga lokalisasi Dolly maupun PSK di sana, penutupan menjelang puasa itu menyakitkan. Sebab, kebutuhan pokok maupun lainnya dipastikan meningkat. Mia, nama samaran, salah seorang PSK Dolly mengungkapkan, ia maupun teman-teman sesame PSK belum siap jika lokalisasi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara ini ditutup. Jika dipaksakan, tidak menutup kemungkinan akan melayani pelanggan di hotel maupun di kos-kosan bebas yang tersebar di sekitar Dolly dan Jarak. “Mau gimana lagi, kita masih butuh makan,” tandas Mia, semalam.
Subagio, warga lokalisasi Dolly mengatakan penutupan Dolly justru akan memicu protitusi terselubung menjamur di Surabaya. Menurutnya, kebijakan Pemkot menutup lokalisasi ini salah, karena pelacuran itu tidak bisa dihapus dari muka bumi ini. “Ini akan menambah permasalah baru di mana para PSK akan menjadi wanita cabutan yang sulit dikontrol. Pemerintah itu sukanya kucing-kucingan, pasti nanti akan banyak prostitusi terselubug," tandas Subagio.
Sekarang ini, lanjut Subagio, dengan banyak hotel murah dan kost-kosan bebas, bisa dijadikan tempat mesum. "Tinggal telepon tunggu di hotel ini, bisa kan. Apa itu tidak tambah sulit dikontrol?," kata Subagio.
Selain itu, lanjut dia, tidak meratanya bantuan atau uang pesangon dari pemerintah juga menjadi pemicu kemungkinan PSK tidak mau berhenti. "Iya, yang dapat. Yang tidak bagaimana," cetus dia.
Transaksi Seks Berkembang
Hal sama diutarakan Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan (Komnas Perempuna), terkait efek penutupan Dolly. "Kami khawatir ketika lokalisasi Dolly ditutup, para PSK menyebar ke tempat lain atau beroperasi ke daerah lainnya. Selain itu PSK mengubah bentuk transaksi seks dengan cara lain, misalnya via SMS atau internet," kata Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.
Menurut Yuni, kondisi-kondisi seperti itu rumit jika nyata terjadi. Maka itu, dia berharap, Pemkot Surabaya bisa menciptakan solusi. Menurutnya, menutup lokalisasi itu bukan perkara sederhana. Selama ini Komnas Perempuan, rajin menyambangi dan mendengar curhatan wanita PSK. Dia menilai prostitusi paksa dan dipaksakan yang membelenggu para wanita terlibat praktik transaksi seks.
Apa yang diungkapkan Komnas Perempuan ini dibenarkan anggota Komisi D DPRD Surabaya Masdhuki Toha. Menurutnya, Pemkot harus melakukan kordinasi di tingkat RT/RW, kelurahan serta kecamatan untuk mengantisipasi dampak dari penutupan lokalisasi Dolly. Sebab, dikhawatirkan para PSK Dolly akan menyebar di kawasan lain. “Jika tidak bisa mengantisipasi prostitusi terselebung, tentunya akan berakibat fatal,” tandas politisi PKB ini.
Selain itu Pemkot juga harus memperketat perijinan pendirian hotel dan tempat hiburan malam. Juga kos-kosan bebas harus diawasi, karena berpotensi untuk tempat prostitusi baru. “Kos-kosan serta hotel yang menyediakan tempat mesum harus diperketat pengawasannya, dengan melakukan razia-razia di lokasi rawan menjadi tempat prostitusi terselubung,” ujarnya.
Ketua Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono, juga mengkritisi kebijakan Pemkot menutup Dolly tanpa menyiapkan antisipasi yang jelas. “Sekarang kita bisa lihat selama ini hotel baru makin marak di Surabaya. Ijin karaoke juga diobral. Jika hal tersebut tidak diantisipasi, berpotensi dijadikan tempat protitusi terselubung,” tegas politisi PDIP ini.
Menurut Baktiono, beberapa lokalisasi yang sudah ditutup Pemkot ternyata hingga sekarang masih beroperasi, serta mendirikan tempat hiburan malam. Berdasarkan informasi dari warga, tempat tersebut dijadikan ajang transaksi seksual. Namum untuk layanannya dilakukan di hotel. “Ini kan dampak yang harus diantisipasi. Kalau tidak, banyak warga bisa kena AIDS,” tegas Baktiono yang menegaskan dirinya tidak akan menghadiri deklarasi penutupan Dolly. n alq/bi
Tanda-tanda prositusi di hotel dan kos-kosan itu terlihat saat Surabaya Pagi melakukan pengecekan di sejumlah hotel dan kos-kosan bebas di sekitar Dolly, Rabu (18/6). Seperti tampak di Hotel Kembang dan Hotel LA, Jalan Pasar Kembang, sekitar 1 km dari lokalisasi Dolly. "Tadi malam (Selasa malam, red) ramai mas," ucap Boyo, salah satu karyawan Hotel Kembang.
Ia mengakui sejak kabar penutupan Dolly, pengunjung yang check in mengalami peningkatan. Kebanyakan yang menginap memang pasangan pria dan wanita. Tarif di hotel short time ini cukup terjangkau. Mulai dari harga Rp 110.000 dengan fasilitas tempat tidur dan kipas angin, Rp 150.000 fasilitas tempat tidur dan AC, hingga harga Rp 200.000 dengan fasilitas tempat tidur, AC dan TV.
Hotel-hotel murah dan terjangkau ini bisa menjadi tempat PSK Dolly – Jarak yang on call. Berdasar informasi warga, hotel short time di sepanjang Jalan Pasar Kembang ini biasa dimanfaatkan pasangan mesum atau pasangan selingkuh. “PSK-nya juga ada. Biasanya mereka yang cari tamu di tempat hiburan. Dulu sewaktu Jalan Diponegoro dan Bambu Runcing masih banyak PSK, ya di hotel-hotel ini mereka melayani,” tutur seorang warga Kupang.
Selain hotel, pemilik kos-kosan bebas di daerah Kupang dan sekitarnya juga diuntungkan penutupan Dolly. Pantauan di daerah Kupang Krajan, kos-kosan bebas di sana penuh. Hal sama sama juga tampak di daerah Tempel Sukorejo dan Wonorejo. Tarif kos-kosan bebas di sana mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta per bulan. Sedang penghuni kos-kosan bebas di sana, rata-rata pekerja hiburan malam dan purel.
Tomo, nama disamarkan, salah satu pelanggan Dolly ini mengaku ia tak khawatir jika Dolly dan Jarak ditutup. Sebab, untuk mendapatkan PSK mudah ditemukan di kos-kosan bebas. PSK di Dolly juga mudah dihubungi lewat ponsel maupun BBM (Blackberry Messenger). “Gak susah, BBM mucikari atau PSK-nya udah bisa," ungkap pria kelahiran Sampang Madura tersebut.
Dirinya meyakini, tidak mudah menghapus prostitusi di Surabaya. "Meski Dolly ditutup, banyak hotel-hotel dan kos-kosan, mereka (PSK) itu butuh uang. Mereka on call jika Dolly ditutup," tukas pria berbadan jangkung tersebut.
Hal sama juga diungkapkan Joshua, nama disamarkan, pelanggan Dolly lainnya. Ia mengaku terakhir 'jajan' ke Dolly, pada Selasa (17/4/2014) malam sebelum Dolly ditutup. "Saya ke Dolly karena dihubungi PSK langganannya. Dia bilang 'Mas, nggak ke sini ta, ini malam terakhir, besok (tadi malam, red) sudah tutup lho'," ujarnya menirukan rayuan PSK itu.
Menurut penuturan PSK langganannya tersebut, pasca Dolly ditutup, mereka tetap akan beroperasi mencari pria hidung belang melalui perantara atau makelar. Modusnya menerima panggilan untuk melayani pelanggan di hotel atau kamar kos si PSK. "Walaupun Dolly ditutup, sebagian besar PSK tetap akan menghuni kos di sekitar Dolly sampai jelang Lebaran tahun ini. Mereka beralasan karena banyak PSK mengaku di keluarganya bekerja sebagai buruh pabrik, SPG atau karyawan salon. Kalau pulang kampung sekarang, takut dicurigai keluarga atau tetangga rumahnya," ungkapnya.
Kemungkinan paling buruk, lanjut dia, PSK langganannya itu akan mencari tempat lokalisasi lain di luar Jawa Timur, seperti Bali, Batam atau Yogyakarta. "Saya sebagai pelanggan Dolly tidak masalah kalau Dolly ditutup. Ini karena saya iba dan tahu keluh kesah para PSK yang banyak mengaku terpaksa menjajakan dirinya," tutur pria murah senyum ini.
Sementara informasi yang dihimpun dari warga lokalisasi Dolly maupun PSK di sana, penutupan menjelang puasa itu menyakitkan. Sebab, kebutuhan pokok maupun lainnya dipastikan meningkat. Mia, nama samaran, salah seorang PSK Dolly mengungkapkan, ia maupun teman-teman sesame PSK belum siap jika lokalisasi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara ini ditutup. Jika dipaksakan, tidak menutup kemungkinan akan melayani pelanggan di hotel maupun di kos-kosan bebas yang tersebar di sekitar Dolly dan Jarak. “Mau gimana lagi, kita masih butuh makan,” tandas Mia, semalam.
Subagio, warga lokalisasi Dolly mengatakan penutupan Dolly justru akan memicu protitusi terselubung menjamur di Surabaya. Menurutnya, kebijakan Pemkot menutup lokalisasi ini salah, karena pelacuran itu tidak bisa dihapus dari muka bumi ini. “Ini akan menambah permasalah baru di mana para PSK akan menjadi wanita cabutan yang sulit dikontrol. Pemerintah itu sukanya kucing-kucingan, pasti nanti akan banyak prostitusi terselubug," tandas Subagio.
Sekarang ini, lanjut Subagio, dengan banyak hotel murah dan kost-kosan bebas, bisa dijadikan tempat mesum. "Tinggal telepon tunggu di hotel ini, bisa kan. Apa itu tidak tambah sulit dikontrol?," kata Subagio.
Selain itu, lanjut dia, tidak meratanya bantuan atau uang pesangon dari pemerintah juga menjadi pemicu kemungkinan PSK tidak mau berhenti. "Iya, yang dapat. Yang tidak bagaimana," cetus dia.
Transaksi Seks Berkembang
Hal sama diutarakan Komisi Nasional Hak Asasi Perempuan (Komnas Perempuna), terkait efek penutupan Dolly. "Kami khawatir ketika lokalisasi Dolly ditutup, para PSK menyebar ke tempat lain atau beroperasi ke daerah lainnya. Selain itu PSK mengubah bentuk transaksi seks dengan cara lain, misalnya via SMS atau internet," kata Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.
Menurut Yuni, kondisi-kondisi seperti itu rumit jika nyata terjadi. Maka itu, dia berharap, Pemkot Surabaya bisa menciptakan solusi. Menurutnya, menutup lokalisasi itu bukan perkara sederhana. Selama ini Komnas Perempuan, rajin menyambangi dan mendengar curhatan wanita PSK. Dia menilai prostitusi paksa dan dipaksakan yang membelenggu para wanita terlibat praktik transaksi seks.
Apa yang diungkapkan Komnas Perempuan ini dibenarkan anggota Komisi D DPRD Surabaya Masdhuki Toha. Menurutnya, Pemkot harus melakukan kordinasi di tingkat RT/RW, kelurahan serta kecamatan untuk mengantisipasi dampak dari penutupan lokalisasi Dolly. Sebab, dikhawatirkan para PSK Dolly akan menyebar di kawasan lain. “Jika tidak bisa mengantisipasi prostitusi terselebung, tentunya akan berakibat fatal,” tandas politisi PKB ini.
Selain itu Pemkot juga harus memperketat perijinan pendirian hotel dan tempat hiburan malam. Juga kos-kosan bebas harus diawasi, karena berpotensi untuk tempat prostitusi baru. “Kos-kosan serta hotel yang menyediakan tempat mesum harus diperketat pengawasannya, dengan melakukan razia-razia di lokasi rawan menjadi tempat prostitusi terselubung,” ujarnya.
Ketua Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono, juga mengkritisi kebijakan Pemkot menutup Dolly tanpa menyiapkan antisipasi yang jelas. “Sekarang kita bisa lihat selama ini hotel baru makin marak di Surabaya. Ijin karaoke juga diobral. Jika hal tersebut tidak diantisipasi, berpotensi dijadikan tempat protitusi terselubung,” tegas politisi PDIP ini.
Menurut Baktiono, beberapa lokalisasi yang sudah ditutup Pemkot ternyata hingga sekarang masih beroperasi, serta mendirikan tempat hiburan malam. Berdasarkan informasi dari warga, tempat tersebut dijadikan ajang transaksi seksual. Namum untuk layanannya dilakukan di hotel. “Ini kan dampak yang harus diantisipasi. Kalau tidak, banyak warga bisa kena AIDS,” tegas Baktiono yang menegaskan dirinya tidak akan menghadiri deklarasi penutupan Dolly. n alq/bi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar