TERKAIT:
SURABAYA (Surabaya Pagi) – Detik-detik menjelang penutupan malam nanti, suasana lokalisasi Dolly dan Jarak, Putat Jaya, mulai mencekam. Sejak tadi malam (17/6/2014), warga lokalisasi dari berbagai unsur menggelar rapat konsolidasi untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan Walikota Risma. Emosi warga sempat tersulut menyusul perusakan dua wisma di Gang Dolly, yakni Sumber Rejeki dan Ratu Ayu. Perusakan terjadi pagi harinya oleh orang tak dikenal yang disinyalir orang gila. Mereka pun menyatakan siap ‘perang’ dan mengancam akan membubarkan deklarasi penutupan yang dilakukan Pemkot Surabaya di gedung Islamic Centre Jl Dukuh Kupang, nanti malam (18/6/2014). Sementara Walikota Tri Rismarini meminta bantuan TNI dan Kepolisian sebanyak 3.500 personil, untuk pengamanan. Sejak semalam, puluhan polisi bersenjata lengkap siaga di Islamic Centre. Polisi juga menyiapkan tiga mobil water canon dan barikade kawat berduri. Akankah terjadi bentrok?
Pagi sekitar pukul 07.00 WIB, warga lokalisasi Dolly dikagetkan insiden pelemparan batu oleh orang tak dikenal di wisma Sumber Rejeki dan Ratu Ayu. Dua wisma yang berhadap-hadapan di pintu masuk Gang Dolly itu rusak dan kacanya pecah berantakan. Beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab, pada saat itu penghuni wisma sedang terlelap tidur. Pelemparan batu ini diduga upaya teror. Seorang pelaku beraksi seorang diri dengan mengendarai sepeda motor. Diketahui, pria itu bernama Nanang Arokhman (22), warga Lakarsantri Surabaya. Namun oleh polisi, pria ini dinyatakan tak waras alias gila.
Ketika ditemui di Polsek Sawahan, Nanang berbicara ngelantur. Sepintas tidak terlihat jika Nanang mengalami gangguan jiwa. Pakaian Nanang rapi dengan mengenakan kaus biru dan celana hitam. Dia juga sempat shalat di mushala Polsek Sawahan. Namun ketika diajak bicara, Nanang seperti mengalami gangguan jiwa. “Saya ingin merobohkan gedung-gedung (wisma Dolly), dan akan saya tanami pohon. Pohon-pohon itu untuk anak-anak dan keluarga saya, Saya telah bertemu Tuhan, dan saya telah melihat wajahnya,” ucap Nanang di Polsek Sawahan.
Berdasarkan pemeriksaan, Nanang pernah masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, dan dirawat di sana selama dua minggu. Setelah diperiksa di Polsek Sawahan, kasus perusakan ini dilimpah ke Polrestabes Surabaya, sore kemarin (17/6). Namun warga yang menolak penutupan lokalisasi Dolly dan Jl Jarak, tak percaya jika pelaku perusakan itu gangguan jiwa. “Kami tidak percaya kalau orang yang melempari wisma tadi pagi, adalah orang yang tidak waras. Mungkin petugas yang memeriksanya yang justru tidak waras,” kata Saputra alias Pokemon, Koordinator Komunitas Pemuda Independen (KOPI) bersama Front Pekerja Lokalisasi (FPL), Paguyuban Pekerja Lokalisasi (PPL), dan Paguyuban Pedagang Keliling Lokalisasi.
Alasan mereka tidak percaya karena pada saat beraksi, pelaku tangkas mengendarai motor. Begitu juga saat ditangkap dan dipukuli warga, pelaku meminta-minta ampun. “Kami yakin aksi tadi pagi (kemarin) adalah aksi pesanan. Ada aktor intelektual di belakangnya,” tandasnya.
Ia juga mengungkapkan mulai Rabu (18/4) pukul 06.00 Wib, warga akan memblokir akses masuk ke lokalisasi. Siapa pun tidak boleh masuk, untuk antisipasi masuknya Satpol PP maupun aparat keamanan. "Kita lawan dan akan kita bubarkan. Masyarakat di lokasasi maupun dari luar lokalisasi, siap berhadap-hadapan, sampai benar-benar Lokalisasi Dolly dan Jarak tidak ditutup," kata Saputra.
Ia menegaskan, warga tetap menolak penutupan Dolly dan Jarak. Karena sampai saat ini warga dan tokoh masyarakat, RT dan RW serta mucikari di lokalisasi Dolly dan Jarak, tidak pernah diajak komunikasi dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Sedang warga gang Dolly lainnya menyebutkan nanti pukul 05.00, gang Dollu akan dipenuhi warga. Mulai PSK dan germo berlatih melakukan perlawanan. "Di sini kalau pagi seperti lapangan olah raga militer," sahut pria berambut panjang yang enggan menyebutkan namanya tersebut.
Perlawanan juga ditunjukkan Ketua RW (rukun warga) dan RT (rukun tetangga) di kawasan lokalisasi.Mereka mengancam mundur dan golput pada Pilpres 9 Juli 2014. "Kami akan meletakkan stempel RW dan RT, kalau benar-benar dilakukan penutupan," kata Ketua RW 11 Sutohari.
Kawasan Lokalisasi Dolly dan Jarak ini masuk di 5 RW Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Untuk di RW 11, ada 5 RT yang wilayahnya membawahi kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak. "Kami tetap menolak penutupan Dolly. Kami akan mundur, karena yang memilih RT dan RW adalah warga," tandasnya.
Tetap Ramai Pengunjung
Semalam suasana di Gang Dolly, memunculkan dua sisi yang bertolak belakang. Ada kelompok pria yang membangun kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap aparat Pemkot yang akan menutup nanti malam. Sementara pekerja seks yang menghuni di Gang Dolly tidak terpengaruh. Hampir semua rumah bordir membuka praktik. Para PSKnya tetap asyik memamerkan seksualnya dengan berbagai gaya dan pakaian seksi. Dalam pantauan Surabaya Pagi sejak sore, penghuni wisma sepertinya cuek dengan rencana penutupan yang dijadwalkan malam nanti.
Sampai menjelang tengah malam tadi, sepanjang Gang Dolly (kelas menengah) dan Jarak (prostitusi kelas lebih bawah) tampak normal. Sejumlah germo ada yang berdiri di depan wismanya masing-masing. Mereka menawarkan pekerja seks komersial (PSK) dengan lemah lembut. Sementara para PSK yang duduk di kursi sofa dalam sorotan lampu kuning, senyum-senyum da nada yang melambaikan tangannya mengundang pria hidung belang yang lalu-lalang di Gang Dolly.
Justru momen rencana penutupan digunakan oleh para mucikari Dolly untuk menggaet pengunjung sebanyak-banyaknya. " Ayo mas, terakhir-terakhir, mau tutup," ucap seorang pria di depan wisma Barbara, Gang Dolly.
Di gang Dolly ini, masih banyak pengunjung yang berlalu lalang untuk mencari kepuasan sesaat bersama PSK di sana. Meski begitu, salah seorang makelar PSK di Dolly menyebut bahwa warga lokalisasi siap melakukan perlawanan saat deklarasi penutupan Dolly. "Kami tidak takut dangan gertak pemerintah dan aparat," kata Subagio salah satu warga Dolly yang mengantungkan hidupnya dari lokalisasi ini. “Ini masalah sandang pangan keluarga, kalau Dolly ditutup, keluarga kami makan apa," ucap dia.
Skenario Penutupan
Pencanangan deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak siap dilakukan. Sesuai rencana akan digelar di Gedung Islamic Center Raya Dukuh Kupang, nanti malam. Deklarasi akan dimulai pukul 19.00 yang rencananya akan dikemas dalam "Deklarasi dalam rangka alih fungsi wisma dan alih profesi pekerja seks komersial (PSK) di Lokalisasi Dolly". Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Supomo mengatakan, deklarasi secara resmi penutupan lokalisasi Dolly akan dilakukan 100 orang perwakilan dari masyarakat di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. “Deklarasi akan digelar mulai pukul 19.00 malam,” ujarnya.
Peresmian penutupan Lokalisasi Dolly akan dihadiri sejumlah pejabat teras di Jatim. Mulai Gubernur Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan perwakilan dari organisasi kemasyarakat, serta pihak terkait lainnya. “Selain itu, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri juga akan hadir, sekaligus menyerahkan bantuan untuk para PSK di lokalisasi Dolly yang akan resmi ditutup," katanya.
Pemilihan Gedung Islamic Center sebagai lokasi dilaunchingnya deklarasi karena pemkot menghindari terjadinya bentrok. Seperti yang pernah terjadi paska deklarasi penutupan lokalisasi di Klakahrejo akhir tahun lalu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih mereka yang kontra terhadap penutupan, pemkot bekerjasama dengan TNI dan kepolisian telah menyiapkan sebanyak 3.500 personil. "Kita sudah berkoordinasi dengan pihak TNI dan polisi juga anggota Satpol PP dan Bakesbang Linmas. Total personil yang akan bertugas untuk mengamankan jalannya deklarasi sebanyak 3500 personil," papar Irvan Widyanto Kasatpol PP Kota Surabaya.
Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekkota) Hendro Gunawan menegaskan jika Pemkot Surabaya tidak akan melakukan penutupan lokalisasi Dolly-Jarak secara seketika. Melainkan lebih pada pendekatan manusia. Berdasarkan skenario pemkot, penutupan lokalisasi Dolly-Jarak yang akan didahului dengan deklarasi alih fungsi wisma dan alih fungsi profesi wanita harapan akan dilakukan secara bertahap berkesinambungan sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Jadi penutupan Dolly-Jarak tidak serta merta mengusir dan menutup wisma serta mematikan aliran listrik. Tapi secara paralel dan bertahap melalui pendekatan serta pembicaraan yang akan terus dilakukan oleh Pemkot Surabaya dengan penghuni lokalisasi," tandas Hendro.
Terpisah, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta mengatakan siap melakukan pengamanan. Pihaknya menerjunkan 900 personil gabungan anggota Polrestabes Surabaya dan diback-up Polda Jatim. “Kami sudah siap unutk melakukan pengamanan,” ujarnya. Sedang Pengamanan difokuskan Islamic Center dan Jl. Putat Jaya. n bi/ov/alq/nt
Pagi sekitar pukul 07.00 WIB, warga lokalisasi Dolly dikagetkan insiden pelemparan batu oleh orang tak dikenal di wisma Sumber Rejeki dan Ratu Ayu. Dua wisma yang berhadap-hadapan di pintu masuk Gang Dolly itu rusak dan kacanya pecah berantakan. Beruntung tidak ada korban jiwa. Sebab, pada saat itu penghuni wisma sedang terlelap tidur. Pelemparan batu ini diduga upaya teror. Seorang pelaku beraksi seorang diri dengan mengendarai sepeda motor. Diketahui, pria itu bernama Nanang Arokhman (22), warga Lakarsantri Surabaya. Namun oleh polisi, pria ini dinyatakan tak waras alias gila.
Ketika ditemui di Polsek Sawahan, Nanang berbicara ngelantur. Sepintas tidak terlihat jika Nanang mengalami gangguan jiwa. Pakaian Nanang rapi dengan mengenakan kaus biru dan celana hitam. Dia juga sempat shalat di mushala Polsek Sawahan. Namun ketika diajak bicara, Nanang seperti mengalami gangguan jiwa. “Saya ingin merobohkan gedung-gedung (wisma Dolly), dan akan saya tanami pohon. Pohon-pohon itu untuk anak-anak dan keluarga saya, Saya telah bertemu Tuhan, dan saya telah melihat wajahnya,” ucap Nanang di Polsek Sawahan.
Berdasarkan pemeriksaan, Nanang pernah masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, dan dirawat di sana selama dua minggu. Setelah diperiksa di Polsek Sawahan, kasus perusakan ini dilimpah ke Polrestabes Surabaya, sore kemarin (17/6). Namun warga yang menolak penutupan lokalisasi Dolly dan Jl Jarak, tak percaya jika pelaku perusakan itu gangguan jiwa. “Kami tidak percaya kalau orang yang melempari wisma tadi pagi, adalah orang yang tidak waras. Mungkin petugas yang memeriksanya yang justru tidak waras,” kata Saputra alias Pokemon, Koordinator Komunitas Pemuda Independen (KOPI) bersama Front Pekerja Lokalisasi (FPL), Paguyuban Pekerja Lokalisasi (PPL), dan Paguyuban Pedagang Keliling Lokalisasi.
Alasan mereka tidak percaya karena pada saat beraksi, pelaku tangkas mengendarai motor. Begitu juga saat ditangkap dan dipukuli warga, pelaku meminta-minta ampun. “Kami yakin aksi tadi pagi (kemarin) adalah aksi pesanan. Ada aktor intelektual di belakangnya,” tandasnya.
Ia juga mengungkapkan mulai Rabu (18/4) pukul 06.00 Wib, warga akan memblokir akses masuk ke lokalisasi. Siapa pun tidak boleh masuk, untuk antisipasi masuknya Satpol PP maupun aparat keamanan. "Kita lawan dan akan kita bubarkan. Masyarakat di lokasasi maupun dari luar lokalisasi, siap berhadap-hadapan, sampai benar-benar Lokalisasi Dolly dan Jarak tidak ditutup," kata Saputra.
Ia menegaskan, warga tetap menolak penutupan Dolly dan Jarak. Karena sampai saat ini warga dan tokoh masyarakat, RT dan RW serta mucikari di lokalisasi Dolly dan Jarak, tidak pernah diajak komunikasi dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Sedang warga gang Dolly lainnya menyebutkan nanti pukul 05.00, gang Dollu akan dipenuhi warga. Mulai PSK dan germo berlatih melakukan perlawanan. "Di sini kalau pagi seperti lapangan olah raga militer," sahut pria berambut panjang yang enggan menyebutkan namanya tersebut.
Perlawanan juga ditunjukkan Ketua RW (rukun warga) dan RT (rukun tetangga) di kawasan lokalisasi.Mereka mengancam mundur dan golput pada Pilpres 9 Juli 2014. "Kami akan meletakkan stempel RW dan RT, kalau benar-benar dilakukan penutupan," kata Ketua RW 11 Sutohari.
Kawasan Lokalisasi Dolly dan Jarak ini masuk di 5 RW Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Untuk di RW 11, ada 5 RT yang wilayahnya membawahi kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak. "Kami tetap menolak penutupan Dolly. Kami akan mundur, karena yang memilih RT dan RW adalah warga," tandasnya.
Tetap Ramai Pengunjung
Semalam suasana di Gang Dolly, memunculkan dua sisi yang bertolak belakang. Ada kelompok pria yang membangun kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap aparat Pemkot yang akan menutup nanti malam. Sementara pekerja seks yang menghuni di Gang Dolly tidak terpengaruh. Hampir semua rumah bordir membuka praktik. Para PSKnya tetap asyik memamerkan seksualnya dengan berbagai gaya dan pakaian seksi. Dalam pantauan Surabaya Pagi sejak sore, penghuni wisma sepertinya cuek dengan rencana penutupan yang dijadwalkan malam nanti.
Sampai menjelang tengah malam tadi, sepanjang Gang Dolly (kelas menengah) dan Jarak (prostitusi kelas lebih bawah) tampak normal. Sejumlah germo ada yang berdiri di depan wismanya masing-masing. Mereka menawarkan pekerja seks komersial (PSK) dengan lemah lembut. Sementara para PSK yang duduk di kursi sofa dalam sorotan lampu kuning, senyum-senyum da nada yang melambaikan tangannya mengundang pria hidung belang yang lalu-lalang di Gang Dolly.
Justru momen rencana penutupan digunakan oleh para mucikari Dolly untuk menggaet pengunjung sebanyak-banyaknya. " Ayo mas, terakhir-terakhir, mau tutup," ucap seorang pria di depan wisma Barbara, Gang Dolly.
Di gang Dolly ini, masih banyak pengunjung yang berlalu lalang untuk mencari kepuasan sesaat bersama PSK di sana. Meski begitu, salah seorang makelar PSK di Dolly menyebut bahwa warga lokalisasi siap melakukan perlawanan saat deklarasi penutupan Dolly. "Kami tidak takut dangan gertak pemerintah dan aparat," kata Subagio salah satu warga Dolly yang mengantungkan hidupnya dari lokalisasi ini. “Ini masalah sandang pangan keluarga, kalau Dolly ditutup, keluarga kami makan apa," ucap dia.
Skenario Penutupan
Pencanangan deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak siap dilakukan. Sesuai rencana akan digelar di Gedung Islamic Center Raya Dukuh Kupang, nanti malam. Deklarasi akan dimulai pukul 19.00 yang rencananya akan dikemas dalam "Deklarasi dalam rangka alih fungsi wisma dan alih profesi pekerja seks komersial (PSK) di Lokalisasi Dolly". Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Supomo mengatakan, deklarasi secara resmi penutupan lokalisasi Dolly akan dilakukan 100 orang perwakilan dari masyarakat di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. “Deklarasi akan digelar mulai pukul 19.00 malam,” ujarnya.
Peresmian penutupan Lokalisasi Dolly akan dihadiri sejumlah pejabat teras di Jatim. Mulai Gubernur Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan perwakilan dari organisasi kemasyarakat, serta pihak terkait lainnya. “Selain itu, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri juga akan hadir, sekaligus menyerahkan bantuan untuk para PSK di lokalisasi Dolly yang akan resmi ditutup," katanya.
Pemilihan Gedung Islamic Center sebagai lokasi dilaunchingnya deklarasi karena pemkot menghindari terjadinya bentrok. Seperti yang pernah terjadi paska deklarasi penutupan lokalisasi di Klakahrejo akhir tahun lalu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih mereka yang kontra terhadap penutupan, pemkot bekerjasama dengan TNI dan kepolisian telah menyiapkan sebanyak 3.500 personil. "Kita sudah berkoordinasi dengan pihak TNI dan polisi juga anggota Satpol PP dan Bakesbang Linmas. Total personil yang akan bertugas untuk mengamankan jalannya deklarasi sebanyak 3500 personil," papar Irvan Widyanto Kasatpol PP Kota Surabaya.
Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekkota) Hendro Gunawan menegaskan jika Pemkot Surabaya tidak akan melakukan penutupan lokalisasi Dolly-Jarak secara seketika. Melainkan lebih pada pendekatan manusia. Berdasarkan skenario pemkot, penutupan lokalisasi Dolly-Jarak yang akan didahului dengan deklarasi alih fungsi wisma dan alih fungsi profesi wanita harapan akan dilakukan secara bertahap berkesinambungan sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Jadi penutupan Dolly-Jarak tidak serta merta mengusir dan menutup wisma serta mematikan aliran listrik. Tapi secara paralel dan bertahap melalui pendekatan serta pembicaraan yang akan terus dilakukan oleh Pemkot Surabaya dengan penghuni lokalisasi," tandas Hendro.
Terpisah, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta mengatakan siap melakukan pengamanan. Pihaknya menerjunkan 900 personil gabungan anggota Polrestabes Surabaya dan diback-up Polda Jatim. “Kami sudah siap unutk melakukan pengamanan,” ujarnya. Sedang Pengamanan difokuskan Islamic Center dan Jl. Putat Jaya. n bi/ov/alq/nt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar