Kamis, 19 Juni 2014

Ayo Mas, Dolly Masih Buka”

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~%E2%80%9CAyo-Mas,-Dolly-Masih-Buka%E2%80%9D;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962cbe3a800b92fac609d841655ce8a0dc6




SURABAYA (Surabaya Pagi) - Semalam (19/6), lokalisasi Dolly dan Jarak kembali menggeliat, meski Pemkot Surabaya resmi menutup lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara ini. Para pekerja seks komersial (PSK) terlihat duduk di sofa, siap melayani pria hidung belang. Akses jalan yang sebelumnya ditutup, kini dibuka lagi. "Ayo mas, masuk-masuk... sek bukak Dolly ne (Ayo masuk wisma, Dolly masih buka," ucap mucikari dan makelar PSK di depan wisma Gang Dolly.

Memang, pengunjung tidak terlalu banyak. Tidak seperti malam-malam biasanya. Tapi penghuni Gang Dolly memakumi. Pasalnya, masyarakat mengira masih menganggap Dolly sudah tutup. "Ayo, silahkan masuk," kata seorang pegawai begitu ada pria yang melintas di depan wisma.

Namun dari sekian banyak wisma di gang Dolly, ada satu wisma tak beroperasi, yakni Wisma Barbara. Jika wisma-wisma lain terlihat hingar-bingar, wisma terbesar di Gang Dolly ini malah redup. Hanya ada sejumlah pegawai sibuk beraktivitas di dalam. Beberapa perempuan ada di dalam. Tapi mereka tidak melayani tamu. Hanya bercanda dengan sesama PSK. "Kalau Barbara buka, malah akan diprotes warga. Soalnya, warga dapat laporan bahwa dia (pengelola Barbara) setuju dengan penutupan dan sudah menerima kompensasi," ucap Edi, warga setempat.

Dari pantauan siang kemarin, PSK dari wisma Barbara memang mengambil uang kompensasi atas penutupan lokalisasi itu. Mereka datang ke Kantor Koramil 0832/1 Sawahan sekitar pukul 13.30 WIB. Saat datang, wanita malam dari Wisma Barbara ini datang bergerombol sebanyak 15 orang dan diantar langsung oleh Sakak, pemilik wisma. Dari penampilannya, mereka memang berbeda dengan para PSK yang sejak pagi juga mengantri. Para PSK dari Barbara terlihat lebih muda dengan usia sekitar 20-an tahun. Hingga kemarin, jumlah warga yang mengambil kompensasi sebesar Rp 5 juta baru sekitar 40 orang dari 1.449 PSK yang menghuni Dolly dan Jarak.

Salah seorang mucikari mengungkapkan sejumlah wisma memilih buka seperti hari biasa, lantaran deklarasi penutupan yang dilakukan Pemkot di Islamic Center, tidak memiliki kekuatan apa-apa. "Silakan deklarasi, namun wisma tetap akan buka seperti biasa. Kalau kita tutup kemarin karena menghormati deklarasi," ujar mucikari yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, mereka memutuskan tetap buka karena tidak ada tempat lagi untuk mencari nafkah. Sedang kompensasi Rp 5 juta yang diberikan Pemkot, dinilai terlalu kecil. "Saya setiap bulan bisa dapat lebih dari Rp 10 juta. Kompensasi senilai Rp 5 juta itu terlalu kecil. Terus, setelah itu saya dapat uang dari mana lagi," cetus Lala, bukan nama sebenarnya.

Wanita yang sudah dua tahun bekerja di Dolly ini mengaku sangat berharap agar tidak ada penutupan lokalisasi. Alasannya, di situlah dia mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Demikian halnya disampaikan Dini, juga PSK Dolly. Dia merasa bahwa Pemerintah tidak adil jika menutup lokalisasi. Sebab, area prostitusi bukan hanya di lokalisasi, banyak di tempat-tempat hiburan dan hotel-hotel. "Di sini kami bekerja tanpa mengganggu orang lain. Kalau prostitusi mau dihilangkan, jangan hanya Dolly saja," kata wanita yang sudah lima tahun menjadi PSK di Dolly ini.

Mulai Rehabilitasi
Paska Deklarasi alih fungsi kawasan Dolly dan Jarak oleh warga Kelurahan Putat Jaya kemarin malam (18/6), Pemkot Surabaya mulai melakukan proses tahapan rehabilitasi. Upaya konkret alih fungsi akan dilakukan saat memasuki bulan Puasa Ramadan. Walikota Tri Rismaharini mengatakan pelepasan atribut berbau lokalisasi dilaksanakan saat puasa, sesuai himbauan seruan bersama selama ini. Diharapkan, setelah Ramadan sudah tidak ada lagi kegiatan prostitusi di Dolly maupun Jarak. Hal itu sesuai dengan nota kesepahaman bersama yang diteken Walikota Surabaya, Kepala Staf Komando Garnisun Tetap III (Kogartap III) Surabaya, Kapolrestabes Surabaya dan Komandan Resort Militer 084 Bhaskara Jaya saat malam deklarasi alih fungsi Dolly dan Jarak.

Menyoal PSK dan mucikari yang masih nekat membuka wisma paska deklarasi, pihaknya yakin tidak akan berlangsung lama. "Karena sudah ada perda yang mengatur, tinggal Satpol PP yang menertibkan sebagai penegak perda. Kita juga sudah menyerahkan keamanan ke polisi. Sanksi pidana dan perdata yang nanti menentukan," tegas Risma.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta menyatakan belum bisa berbuat banyak bila ada wisma yang memilih tetap buka seperti biasa. "Kami belum akan menindak wisma yang masih buka pascapenutupan Dolly dan Jarak. Untuk saat ini, kami masih fokus pada pengamanan pemberian uang stimulus yang saat ini digelar di Kantor
Koramil Sawahan," kata Setija.

Menurutnya, penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak merupakan domain Pemkot Surabaya. Sedangkan tugas polisi adalah memback-up proses pengamanannya. "Ini kan bertahap jadi kita upayakan ini (pemberian uang stimulus) aman. Nanti selanjutnya ya kita berharap mereka sadar dan menutup sendiri wismanya," pungkasnya. n al/ov/ya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar