TERKAIT:
Siapa bilang perempuan lesbian tak bisa kembali normal. Sebut saja Nani asal Surabaya. Perempuan cantik berumur 32 tahun ini menjadi lesbian selama 10 tahun. Selama itu pula, Nani dengan pasangan Bucinya (lesbian berperan pria), telah mengadopsi seorang anak. Meski begitu, ‘perkawinan’ dua lesbian ini akhirnya berpisah juga. Bagaimana pasangan ini bisa ‘cerai’? Dan seperti perasaannya saat meninggalkan kekasih lesbinya? Berikut ini laporan wartawan Surabaya Pagi.
Narendra Bakrie, SURABAYA
Kembali hidup normal dan memiliki suami seorang laki-laki tulen, bukanlah serta merta bisa. Namun kaum lesbian di Surabaya yang memilih jalan hidup normal, bukan hanya dilakukan Nani. Wanita ini bercerita, dirinya menjalin ‘rumah tangga’ dengan pasangan Bucinya sejak berumur 22 hingga 28 tahun. Namun sebelumnya Nani sudah menjadi lesbian dengan peran Fem (lesbian cewek) mulai umur 19 tahun. Sedangkan dirinya bersama sang Buci pasangannya, memutuskan untuk mengadopsi anak pada saat dirinya berusia 23 tahun.
Namun, di saat dirinya dan Buci pasangannya sedang asyik merawat anak yang diadopsi dari teman sebayanya itu, tiba tiba kedua orang tuanya menyodorkan calon pasangan suami untuknya. Karena tak ingin dinilai sebagai anak durhaka, Nani pun memutuskan untuk menerima lelaki tulen pilihan orang tuanya.
“Sebenarnya berat untuk melepas harmoni kehidupan yang sudah saya lewati dengan pasangan (Buci) saya saat itu. Meski berat, saya mencoba meyakinkan pasangan saya. Setelah dia merelakan, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Namun, kami berdua tetap konsekuen untuk merawat anak hasil adopsi kami berdua. Ya begitulah, secara bergantian kami merawatnya. Saat saya benar-benar kembali ke keluarga, beban mental yang saya terima seakan di luar batas kemampuan saya. Banyak gunjingan dari masyarakat maupun keluarga besar sendiri. Namun, lambat laun semuanya terkikis seiring perkawinan saya (pada usia 29) dan memperoleh satu anak hingga sekarang,” kisah Nani kapada Surabaya Pagi di salah satu mall di Surabaya, akhir pekan kemarin.
Nani juga mengisahkan, tak mudah untuk menyukai lelaki tulen sepenuhnya. Perlu waktu setahun untuk membiasakan diri disentuh lelaki tulen. Belum lagi, dirinya harus menceritakan kehidupan dia sebelumnya kepada suami. Apalagi dirinya sudah membawa seorang anak meskipun itu hasil adopsi. “Untungnya lelaki yang disodorkan orang tua saya pada saat itu sangat pengertian terhadap saya. Dia pun memaklumi dengan kekurangan saya. Saya bersyukur bisa kembali ke keluarga dalam keadaan normal (menikah dengan lelaki tulen),” tambah Nani sambil terlihat mengusap air matanya yang saat itu tak disangkannya menetes.
Cerita berbeda dan lebih sulit dialami Vino (nama samaran). Vino yang dulunya seorang lesbi dengan peran Buci (lelaki) mengaku butuh waktu 5 tahun untuk kembali menjadi wanita seutuhnya (pecinta lelaki). Vino mengaku, sejak umur 17 tahun, dirinya sudah menjadi Buci. Namun karena dirinya sering mengikuti kegiatan sosial tentang penyakit. Dirinya sadar perannya sebagai Buci memberikan dampak penyakit yang tak main-main yang sewaktu waktu dapat mengancam hidupnya. Dari sanalah (umur 24 tahun), Vino memutuskan untuk belajar menjadi wanita tulen dengan instruktur seorang mantan lesbian yang dulunya juga berperan sebagai Buci.
“Pertama, saya harus memanjangkan rambut saya dan merawat tubuh saya agar seperti layaknya wanita (tanpa otot). Kedua, mengubah sifat dan tingkah laku saya agar kembali seperti wanita yang lemah lembut pada umumnya. Nah, dua tahapan itu saat itu saya lewati dengan enteng dan bisa dibilang cukup cepat. Yang membuat saya hampir putus asa adalah menjadi penyuka lelaki tulen. Bayangkan saja mas, sebelumnya saya berperan menjadi pengayom wanita (meskipun hakekatnya sejenis). Bertolak belakang kan mas. Saya harus menerima untuk diayomi seorang lelaki. Butuh waktu 3 tahun untuk saya menjadi normal. Itupun tergolong cepat karena motivasi yang diberikan instruktur dan keluarga,” ulasnya sambil tersipu malu.
Dari penelusuran Surabaya Pagi terhadap kehidupan kaum lesbian maupun mantan lesbian. Rata rata dari mereka mengaku hanyalah ingin tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupannya. Meski tekanan masyarakat umum kadangkala membuat mereka merasa terkucil. Namun untuk menemukan jatidiri sesungguhnya atas hiduplah yang terus membuat mereka bertahan. Meskipun sulit dan pahit yang mereka rasakan. Bahkan, beberapa mantan lesbian memberikan pesan mereka bahwa sebuah pilihan itu kadangkala datang justru dengan paksaan. Dan jika paksaan itu dianggap positif, maka hasil yang akan diterima juga akan positif. n
Narendra Bakrie, SURABAYA
Kembali hidup normal dan memiliki suami seorang laki-laki tulen, bukanlah serta merta bisa. Namun kaum lesbian di Surabaya yang memilih jalan hidup normal, bukan hanya dilakukan Nani. Wanita ini bercerita, dirinya menjalin ‘rumah tangga’ dengan pasangan Bucinya sejak berumur 22 hingga 28 tahun. Namun sebelumnya Nani sudah menjadi lesbian dengan peran Fem (lesbian cewek) mulai umur 19 tahun. Sedangkan dirinya bersama sang Buci pasangannya, memutuskan untuk mengadopsi anak pada saat dirinya berusia 23 tahun.
Namun, di saat dirinya dan Buci pasangannya sedang asyik merawat anak yang diadopsi dari teman sebayanya itu, tiba tiba kedua orang tuanya menyodorkan calon pasangan suami untuknya. Karena tak ingin dinilai sebagai anak durhaka, Nani pun memutuskan untuk menerima lelaki tulen pilihan orang tuanya.
“Sebenarnya berat untuk melepas harmoni kehidupan yang sudah saya lewati dengan pasangan (Buci) saya saat itu. Meski berat, saya mencoba meyakinkan pasangan saya. Setelah dia merelakan, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Namun, kami berdua tetap konsekuen untuk merawat anak hasil adopsi kami berdua. Ya begitulah, secara bergantian kami merawatnya. Saat saya benar-benar kembali ke keluarga, beban mental yang saya terima seakan di luar batas kemampuan saya. Banyak gunjingan dari masyarakat maupun keluarga besar sendiri. Namun, lambat laun semuanya terkikis seiring perkawinan saya (pada usia 29) dan memperoleh satu anak hingga sekarang,” kisah Nani kapada Surabaya Pagi di salah satu mall di Surabaya, akhir pekan kemarin.
Nani juga mengisahkan, tak mudah untuk menyukai lelaki tulen sepenuhnya. Perlu waktu setahun untuk membiasakan diri disentuh lelaki tulen. Belum lagi, dirinya harus menceritakan kehidupan dia sebelumnya kepada suami. Apalagi dirinya sudah membawa seorang anak meskipun itu hasil adopsi. “Untungnya lelaki yang disodorkan orang tua saya pada saat itu sangat pengertian terhadap saya. Dia pun memaklumi dengan kekurangan saya. Saya bersyukur bisa kembali ke keluarga dalam keadaan normal (menikah dengan lelaki tulen),” tambah Nani sambil terlihat mengusap air matanya yang saat itu tak disangkannya menetes.
Cerita berbeda dan lebih sulit dialami Vino (nama samaran). Vino yang dulunya seorang lesbi dengan peran Buci (lelaki) mengaku butuh waktu 5 tahun untuk kembali menjadi wanita seutuhnya (pecinta lelaki). Vino mengaku, sejak umur 17 tahun, dirinya sudah menjadi Buci. Namun karena dirinya sering mengikuti kegiatan sosial tentang penyakit. Dirinya sadar perannya sebagai Buci memberikan dampak penyakit yang tak main-main yang sewaktu waktu dapat mengancam hidupnya. Dari sanalah (umur 24 tahun), Vino memutuskan untuk belajar menjadi wanita tulen dengan instruktur seorang mantan lesbian yang dulunya juga berperan sebagai Buci.
“Pertama, saya harus memanjangkan rambut saya dan merawat tubuh saya agar seperti layaknya wanita (tanpa otot). Kedua, mengubah sifat dan tingkah laku saya agar kembali seperti wanita yang lemah lembut pada umumnya. Nah, dua tahapan itu saat itu saya lewati dengan enteng dan bisa dibilang cukup cepat. Yang membuat saya hampir putus asa adalah menjadi penyuka lelaki tulen. Bayangkan saja mas, sebelumnya saya berperan menjadi pengayom wanita (meskipun hakekatnya sejenis). Bertolak belakang kan mas. Saya harus menerima untuk diayomi seorang lelaki. Butuh waktu 3 tahun untuk saya menjadi normal. Itupun tergolong cepat karena motivasi yang diberikan instruktur dan keluarga,” ulasnya sambil tersipu malu.
Dari penelusuran Surabaya Pagi terhadap kehidupan kaum lesbian maupun mantan lesbian. Rata rata dari mereka mengaku hanyalah ingin tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupannya. Meski tekanan masyarakat umum kadangkala membuat mereka merasa terkucil. Namun untuk menemukan jatidiri sesungguhnya atas hiduplah yang terus membuat mereka bertahan. Meskipun sulit dan pahit yang mereka rasakan. Bahkan, beberapa mantan lesbian memberikan pesan mereka bahwa sebuah pilihan itu kadangkala datang justru dengan paksaan. Dan jika paksaan itu dianggap positif, maka hasil yang akan diterima juga akan positif. n
Tidak ada komentar:
Posting Komentar